Saya Fisioterapis



Pages

cari-cari

DDST

Minggu, 26 Februari 2012


  1. DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST (DDST)
Tujuan :
  1. Mendeteksi secara awal adanya developmental problem.
  2. Developmental problem adalah adanya suatu kegagalan dari seorang anak untuk berkembang secara normal dalam mengatasi keadaan lingkungan (franken Burg & Nort, 1974)
Indikasi:
Diberikan pada anak-anak usia 4 minggu s/d 6 tahun.
Sasaran pemeriksaan tumbuh kembang:
Meliputi 4 sektor, yaitu:
  1. Personal social, yaitu kemampuan anak untuk bergaul dengan orang lain dan mengurus dirinya sendiri.
  2. Fine Motor Adaptive, yaitu kemampuan anak untuk melihat dan menggunakan tangannya untuk mengambil objek serta menggambar.
  3. Language, yaitu kemampuan anak untuk mendengar dan menjalankan perintah serta berbicara.
Groos Motor, yaitu kemampuan anak untuk melakukan aktivitas berbaring, berguling, duduk, berjalan dan melompat.
Setiap sektor terdiri atas sejumlah item kemampuan yang digambarkan dengan batangan persegi panjang yang terdiri dari 2 warna (gelap dan terang) yang menggambarkan prosentase anak normal yang dapat melakukan item tersebut.
Langkah-langkah pemeriksaan:
  1. Menghitung usia anak, caranya adalah tanggal pengetesan dikurangi dengan tanggal lahir. Bila anak lahir prematur 2 minggu atau lebih dari Hari Perkiraan Lahir, maka umur anak tersebut dikurangi dengan jumlah hari prematurnya.
  2. Buat garis usia anak pada blanko DDST dengan menggunakan tinta warna.
  3. Pemeriksaan dimulai dari item yang terletak disebelah KIRI garis usia, bila LULUS teruskan ke KANAN hingga terjadi 3 kali kegagalan dan atau hingga seluruh item yang terpotong garis usia diperiksa semua. Bila TIDAK LULUS, teruskan ke KIRI hingga 3 kali kegagalan atau ke KANAN hingga seluruh item yang terpotong garis usia diperiksa semua.
  4. Tiap item yang diperiksa diberi nilai pada tengah-tengah item bagian terang dengan tanda sebagai berikut:
  1. V, bila LULUS
  2. 0, bila GAGAL
  3. M, bila MENOLAK

Penilaian dalam Lambat Perkembangan:
  1. Suatu item kemampuan dikatakan lambat (delay) bila anak gagal melakukan item kemampuan yang terletak di SEBELAH KIRI garis usia atau apabila anak GAGAL melakukan item dimana 90% anak normal dapat melakukan pada usia yang lebih muda.
  2. Kelambatan (delay) digambarkan dengan mengarsir gelap gambar batangan sebelah kanan dari item yang gagal tersebut.
  3. Apabila garis usia menyentuh sebelah kanan dari batangan item dan anak tersebut gagal melakukan item tersebut TIDAK dianggap kelambatam (delay)

Cara Intepretasi Hasil:
  1. Tiap-tiap delay diberi tanda arsir gelap pada sisi kanan dari batangan.
  2. Hitung berapa sektor yang mempunyai 2 atau lebih delay.
  3. Hitung berapa sektor yang mempunyai 1 delay dan semua item yang terpotong garis usia pada sektor yang sama TIDAK LULUS
Gunakan rumus:
  1. ABNORMAL, bila 2 sektor atau lebih masing-masing dengan 2 delay atau lebih.
  2. ABNORMAL, bila 1 sektor memiliki 2 delay atau lebih ditambah 1 sektor dengan 1 delay dalam sektor tersebut semua item yang terpotong garis usia tidak lulus semua.
  3. QUESTIONABLE, bila 1 sektor dengan 2 delay atau lebih.
  4. QUESTIONABLE, bila 1 sektor atau lebih masing-masing dengan 1 delay dan dalam sektor yang sama semua item yang terpotong garis usia tidak lulus
  5. UNTESTABLE, bila penolakan anak yang menyebabkan hasil test abnormal / questionable.

Rescreening:
  • Bila hasil test abnormal atau questionable, dilakukan pemeriksaan ulang 2-3 minggu kemudian.
  • Peralatan yang digunakan:
  1. Blanko DDST
  2. Benang wol warna-warni
  3. Alat tulis
  4. Manik-manik
  5. Kubus ukuran warna-warni 2X2 cm
  6. Berbagai gambar binatang
  7. Mainan anak-anak
Menghitung HPL
HPMT +
H = +7
Bl = -3
Th = +1






Dr. Suparyanto, M.Kes
DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK / BALITA MELALUI KMS
Pengertian
Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik(anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak ) sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel, jadi pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran beratbadan, tinggi badan, dan lingkar kepala.(IDAI, 2002)
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialasi dan kemandirian (Depkes RI, 2005).
Cara deteksi tumbuh kembang anak
1. Mendeteksi tumbuh kembang pada anak diantaranya :
a. Pengukuran antropometri
Pengukuran antropometri ini dapat meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan , lingkar kepala dan lingkar lengan atas
b. Pengukuran berat badan
Pengukuran berat badan ini bagian dari antropometri yang digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yg ada pada tubuh
c. Pengukuran tinggi badan
Pengukuran ini merupakan bagian dari pengukuran antropometrik yang digunakan untuk menilai status perbaikan gizi di samping factor genetik
2. Pertumbuhan dan perkembangan anak :
Anak pada usia 3-6 bulan mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup.
Anak pada usia 9-12 bulan berjalan dengan berpegangan.
Anak pada usia 12-18 bulan minum sendiri dari gelas tanpa tumpah.
Anak pada usia 18-24 bulan mencorat-coret dengan alat tulis.
Anak pada usia 2-3 tahun berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan, melepas pakaian sendiri.
Anak pada usia 3-4 tahun mengenal dan menyebutkan paling sedikit 1 warna.
Anak pada usia 4-5 tahun mencuci dan mengeringkan tangan tanpa bantuan (Depkes RI, 2005).

Tujuan ilmu tumbuh kembang
  1. Sebagai upaya untuk menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak baik fisik, mental dan sosial
  2. Menegakkan diagnosis dini setiap kelainan tumbuh kembang
  3. Kemungkinan penanganan yang efektif
  4. Mencari penyebab dan mencegahnya
Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang balita
1). Faktor Herediter
Faktor herediter merupakan factor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak, factor herditer meliputi factor bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki atau anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai masa pubertas. (Alimul, 2008 : 11)
2). Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan factor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (yaitu lingkungan setelah bayi lahir)
Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi :
  1. Faktor lingkungan prenatal
Gizi pada waktu ibu hamil
Zat kimia atau toksin
Hormonal
  1. Faktor lingkungan postnatal
a). Budaya lingkungan
Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan pola hidup sehat
b). Status sosial ekonomi
Anak dengan keluaraga yang memiliki sosial ekonoi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak dengan sosial ekonomi rendah



c). Nutrisi
Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan, dalam nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air
d). Iklim dan cuaca
Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit
e). Olahraga atau latihan fisik
Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubu dapat tertur serta dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan sel lainnya
f). Posisi anak dalam keluarga
Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang dewasa namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya, sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski dalm perkembangan intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya
g). Status kesehatan
Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan sebaliknya.contoh apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada diri anak maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat karena anak memiliki masa kritis
3). Factor hormonal
Factor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain hormone somatotropin, tiroid dan glukokortikoid. Hormone somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan system skeletal, hormone tiroid berperan menstimulasi metabolism tubuh. Hormone glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium (untuk memproduksi estrogen), selnjutnya hormone tesebut menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempua yang sesuai dengan peran hormonnya (wong 2000) (Alimul, 2008 : 13)
Tahap pencapaian tumbuh kembang anak
1. Masa prenatal
Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus, pada fase embrio pertumbuhan mulai dari konsepsi hingga 8 minggu pertama ,pada minggu kedua terjadi pembelahan sel dan terjadi pemisahan jaringan antara entoderm dan ectoderm pda minggu ketiga terbentuk lapisan mesoderm
2. Masa postnatal
Pertumbuhan
atau perkembangan postnatal dikenal dengan pertumbuhan dan perkembangan setelah lahir ini diawali dengan masa neonates (0-28hari) yang merupkan masa terjadi kehidupan yang baru dalam ekstra uteri yaitu adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh. (Alimul, 2008 : 13)

Apa yang disebut Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak?
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak adalah kegiatan pemeriksaan/skrining untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada anak balita dan pra-sekolah. Semakin dini ditemukan penyimpangan maka semakin mudah dilakukan intervensi untuk perbaikannya, sebaliknya bila penyimpangan terlambat diketahui maka intervensi untuk perbaikannya lebih sulit dilakukan. Keuntungan lain dari deteksi dini adalah agar tenaga kesehatan mempunyai waktu dalam menyusun rencana dan melakukan tindakan/intervensi yang tepat.
Ada 3 jenis deteksi dini, yaitu: 
  1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan.
  2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan.
  3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional.
    1. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
Kegiatan deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dapat dilakukan di tempat-tempat sebagai berikut:
    • Di rumah, deteksi dini dilakukan oleh orang tua/pengasuh.
    • Di Posyandu/Pos PAUD/BKB/TPA/Kelompok Bermain (play group)/Sekolah TK, oleh kader kesehatan, kader PAUD, kader BKB, petugas TPA, guru play group atau guru TK.
    • Di Puskesmas, oleh dokter/bidan/perawat/ahli gizi atau petugas lain yang berwenang.
    1. Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan Anak
    • Deteksi penyimpangan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
    • Tes Daya Dengar (TDD)
    • Tes Daya Lihat (TDL)
    1. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional





PARAPLEGIA

Minggu, 11 Desember 2011

Di kutip dari blog ( http://bimaariotejo.wordpress.com/ )

PENDAHULUAN


Paraplegia merupakan paralysis permanen dari tubuh yang disebabkan oleh luka atau penyakit yang dipengaruhi oleh medulla spinalis.
Pada luka medulla spinalis tulang belakang, biasanya rusak di suatu tempat di sepanjang tulang belakang tersebut akan sembuh, tetapi jaringan saraf pada medulla spinalis tidak dapat sembuh. Kerusakan saraf inilah yang menyebabkan kehilangan permanent pada fungsi dan berakibat pada kondisi yang disebut paraplegia.

II. DEFINISI
Paraplegia adalah kondisi dimana bagian bawah tubuh (extremitas bawah) mengalami kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan karena lesi transversal pada medulla spinalis.
III. EPIDEMIOLOGI

Diperkirakan terjadi sekitar 10.000 kasus cedera medulla spinalis dalam setahun di Amerika Serikat, terutama pada pria muda yang belum menikah. Dari jumlah di atas, penyebab terbanyak karena kecelakaan mobil. Diikuti karena terjatuh, luka tembak dan cedera olah raga. Penyebab non traumatic yang paling sering menyebabkan paraplegi adalah tumor tulang belakang.
IV. PENYEBAB
Penyebab yang paling umum dari kerusakan medulla spinalis adalah :
1. Trauma
Seperti kecelakaan motor, jatuh, luka ketika berolahraga (khususnya menyelam ke perairan dangkal), luka tembakan dan juga bisa karena kecelakaan rumah tangga.
2. Penyakit
  • Motorneuron disease :  keluhan berupa kelemahan otot, seperti pada otot yang cepat letih dan lelah, yaitu pada jari-jari tangan.
  • Polimiositosis bilateral :  keluhan berupa kelemahan / keletihan pada otot– otot disertai mialgia ataupun sama sekali bebas nyeri atau rasa pegal/ linu / ngilu. Polimiositosis juga dapat menyebabkan kelemahan keempat anggota gerak. 
  • Poliradikulopatia / polineuropatia bilateral :  keluhan berupa kelemahan otot – otot tungkai.
  • Miopatia bilateral :  keluhan berupa tidak dapat mengangkat badannya untuk berdiri dari sikap duduk taupun sikap sujud.
  • Distropia bilateral :  kelemahan otot sesuai dengan penyakit herediter umumnya, yaitu sejak kecil.
  • Sindroma Miastenia Gravis :  dimulai dengan adanya ptosis unilateral atau bilateral.
V. GAMBAR ANATOMI
Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang dikelompokkan menjadi :
  • 7 vertebra cervical atau ruas tulang bagian leher membentuk daerah tengkuk.
  • 12 vertebra thorakalis atau ruas tulang punggung membentuk bagian belakang thoraks atau dada.
  • 5 vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membentuk daerah lumbal atau pinggang.
  • 5 vertebra sacralis atau ruas tulang selangkang membentuk sacrum.
  • 4 vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging membentuk tulang koksigeus.

VI. DIAGNOSA
1. ANAMNESA
  1. Bagaimana kekuatan otot pada extremitas bawah ?
  2. Bagaimana  “rasa – rasa” yang dialami pada extremitas bawah ? Apakah merasa seperti tebal atau kesemutan ?
  3. Bisa buang air kecil atau tidak ?
  4. Bisa buang air besar atau tidak ?
  5. Apakah pernah kecelakaan / jatuh yang mengenai tulang  belakang ?
  6. Tumor ? Infeksi ? Gangguan vaskuler ?
2.PEMERIKSAAN
a. Inspeksi
Pasien dalam kondisi berbaring
b. Palpasi
  • Sistem Motorik
Penilaian kekuatan otot merupakan salah satu pemeriksaan yang harus dilakukan pada pemerikasaan paraplegi. Kekuatan otot dapat diperiksa baik pada waktu otot melakukan suatu gerakan (power, kinetik) atau pada waktu menahan atau menghambat atau melawan gerakan (statik). Kadang kelemahan otot baru diketahui bila penderita disuruh melakukan serentetan gerakan pada satu periode (endurance). Untuk melakukan pemeriksaan kekuatan otot harus diketahui fungsi masing – masing otot yang diperiksa.
Pada paraplegia didapatkan kekuatan otot yang menurun pada kedua tungkai.
Penilaian kekuatan otot :
Nilai Kontraksi Persentase
0 Tidak ada
1 Ada, tanpa gerakan yang nyata 0 – 10 %
2 Dapat menggeser / menggerakkan lengan tanpa beban dan tahanan 11 – 25 %
3 Dapat mengangkat lengan melawan gaya berat dan tanpa tahanan 26 – 50 %
4 Dapat mengangkat lengan dengan tahanan ringan 51 – 75 %
5 Dapat mengangkat lengan melawan gaya berat dengan beban tahanan berat 76 – 100 %
  • Sistem Sensorik
Untuk menentukan level dari  paraplegia terutama digunakan sistem sensoris, bukan motoris.
Defisit sensorik pada sindrom paraplegia karena trauma, gangguan spinovaskuler, proses autoimunologik atau proses maligna, satu atau beberapa segmen medulla spinalis rusak sama sekali. Lesi yang seolah memotong medulla spinalis dinamakan lesi transversal. Bilamana lesi transversal berada di bawah Intumesensia servikobrakialis, maka timbulah paralysis kedua tungkai (paraplegia) yang disertai hiperstesia pada permukaan badan dibawah tingkat lesi (hiperstesia paraplegia).
Pada paraplegia spastika ada batas defisit sensorik sedangkan pada paraplegia flaksida tidak memperlihatkan batas defisit sensorik yang jelas.
  • Refleks
Pada kelumpuhan lower motor neuron (LMN) tidak menunjukkan reflek patologis sedangkan pada kelumpuhan Upper Motor Neuron menunjukkan refleks patologis.
a. Reflek Superficial
1. Reflek Kulit Dinding Perut
Kulit dinding perut digores dengan ujung gagang palu refleks atau ujung kunci. Refleks kulit dinding perut menghilang pada lesi piramidalis. Hilangnya refleks ini yang berkombinasi dengan meningkatnya refleks otot dinding perut adalah khas bagi lesi di susunan piramidal.
2. Reflek Kremaster dan Reflek Skrotal
Penggoresan dengan pensil, ujung gagang palu refleks atau ujung kunci terhadap kulit bagian medial akan dijawab dengan elevasi testis ipsilateral. Refleks kremaster menghilang pada lesi di segmen L I – II, juga pada usia lanjut.
3. Reflek Gluteal
Refleks ini terdiri dari gerakan reflektorik otot gluteus ipilateral bilamana digores atau ditusuk dengan jarum atau ujung gagang palu refleks. Refleks gluteal menghilang jika terdapat lesi di segmen L IV – S I.
4. Reflek Anal Eksterna
Refleks ini dibangkitkan dengan jalan penggoresan atau ketukan terhadap kulit atau mukosa daerah perianal.
5. Reflek Plantar
Penggoresan terhadap kulit telapak kaki akan menimbulkan ekstansi serta pengembangan jari – jari kaki dan elevasi ibu jari kaki.
b. Reflek Patologik
Reflek patologik yang sering diperiksa di dalam klinik ialah “Ekstensor Plantar Response” atau tanda Babinski.
Metode-metode Perangsangan :
1. Refleks Chaddock
Penggoresan terhadap kulit dorsum pedis pada bagian lateralnya atau penggoresan terhadap kulit di sekitar malcolus eksterna.
2. Refleks Oppenheim
Pengurutan dari proksimal ke distal secara keras dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan terhadap kulit yang menutupi os. telunjuk dan ibu jari tangan terhadap kulit yang menutupi os. tibia atau pengurutan itu dilakukan dengan menggunakan sensi interfalangeal jari telunjuk dan jari tengah dari tangan yang mengepal.
3. Refleks Gordon
Cara membangkitkan Ekstensor Plantar Response ialah dengan menekan betis secara keras.
4. Refleks Scaeffer
Cara membangkitkan respon tersebut adalah dengan menekan tendon Achilles secara keras.
5. Refleks Gonda
Respon patologik tersebut diatas timbul pada penekukan (plantar fleksi) maksimal dari jari kaki keempat.
6. Refleks Bing
Dibangkitkan dengan memberikan rangsangan tusuk pada kulit yang menutupi metatarsal kelima.
c. Perkusi
  1. Refleks otot dinding perut (bagian atas T8-9, tengah T9-10, bawah T11-12)
Sikap                   :
Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan lurus di samping badan.
Stimulasi  :
Ketukan pada jari yang ditempatkan pada bagian atas, tengah dan bawah dinding perut.
Respons   :
Otot perut yang mengganjal.
2. Refleks tendon lutut (L 2-3-4, N. Femoralis)
Sikap          :
Pasien duduk dengan kedua kakinya digantung
Pasien duduk dengan kedua kakinya ditapakkan di lantai
Pasien berbaring terlentang dengan tungkainya difleksikan di     sendi lutut
Stimulasi   :
Ketukan pada tendon Patella
Respons    :
Tungkai bawah berekstensi
3. Refleks Biseps Femoralis (L4-5,S1-2, N.Ischiadicus)
Sikap        :
Pasien berbaring terlentang dengan tungkai ditekuk ke lutut.
Stimulus   :
Ketukan pada jari di pemeriksa yang ditemoatkan pada tendon     M. Biseps femoralis
Respons   :
Kontraksi M.biceps femoralis
4. Refleks Tendon Achilles (L5,S1-2, N.Tibialis)
Sikap           :
  1. Tungkai ditekuk di sendi dan kaki didorsofleksikan
  2. Pasien Berlutut dengan kedua kaki bebas
Stimulus   :
Ketukan pada tendon Achilles
Respons   :
Plantarfleksi kaki
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • RO                          :  Ditemukan fraktur vertebrae
  • Laboratorium   :
a)      Darah  :  Tidak spesifik
b)      Urine   :  Ada infeksi, sehingga leukosit dan eritrosit meningkat
VII. PENGOBATAN
a. Obat
Jika terjadi contasio / transeksi / kompresi medulla spinalis, maka dapat kita terapi dengan :
  • Metyl Prednisolon 30 mg/kg BB bolus intravena selama 15 menit, dilanjutkan dengan 5,4 mg/kg BB 45 menit setelah bolus selama 23 jam. Hasil optimal bila pemberian dilakukan < 8 jam onset.
  • Tambahkan profilaksis strees ulkus  :  Antacid / antagonis H2.
Sedangkan apabila terdapat comotio medulla spinalis fraktur atau dislokasi tidak stabil harus disingkirkan. Jika pemulihan sempurna, pengobatan tidak diperlukan.
Antibiotik pada umumnya untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih. Beberapa orang menggunakan jus buah cranberry dan pengobatan dari tumbuhan lainnya untuk pencegahan.
b. Fisioterapi
Terdiri dari :
  • Alat bantu
Pada penyakit paraplegia, kita dapat menggunakan alat bantu terapi yang dinamakan “Giger MD”. Dimana merupakan suatu terapi dinamis koordinasi yang efisien untuk melatih pasien dengan lesi CNS.
  • Pemanasan
Dengan air hangat atau sinar.
  • Latihan
Disebut dengan Range Of Motion (ROM) untuk mengetahui luas gerak sendi.
c. Operasi
Dengan menggunakan teknik Harrison roda stabilization (Instrumen Harrison) yaitu mengguakan batang distraksi baja tahan karat untuk mengoreksi dan stabilisasi deformitas vertebra.
Prinsip dasar teknik Harrison dalam perawatan trauma deformitas spinal adalah adanya kemauan dan dukungan dari pasien mengikuti rehabilitasi sejak dini dan untuk mencegah deformitas yang lebih parah.
Tindakan operasi diindikasikan pada kasus :
  • Reduksi terbuka pada dislokasi
  • Cedera terbuka dengan benda asing atau tulang dalam canalis spinalis
  • Lesi parsial medulla spinalis dengan hemamielia yang progresif
Dapat juga kita lakukan tindakan segera pada cedera medulla spinalis, tujuannya adalah mencegah kerusakan lebih lanjut pada medulla spinalis yang diperburuk dengan penanganan yang kurang tepat, efek hipotensi atau hypoxia pada jaringan saraf yang sudah terganggu, yaitu :
  • Letakkan pasien pada alas yang keras dan datar untuk pemindahan
  • Beri bantal, guling atau bantal pasir pada sisi pasien untuk mencegah pergeseran
  • Tutupi dengan selimut untuk menghindari kehilangan hawa panas badan
  • Bawa pasien ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas penanganan kasus cedera medulla spinalis
d. Saran
  • Perawatan vesica urinaria dan fungsi defekasi
  • Perawatan kulit untuk menghindari terjadinya ulcus dekubitus
  • Nutrisi yang adekuat
  • Control nyeri  :  analgetik, obat anti inflamasi non steroid, anti konvulsi, codein, dll.
e. Psikoterapi sangat penting, terutama pada pasien yang mengalami sekuel neurologist berat dan permanen.
.
DAFTAR PUSTAKA



Mardjono, Mahar DR.Prof., Sidharta, Priguna DR.Prof. 2003. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat. Hal : 20 – 27, 35, 85.
Sidharta, Priguna M.D. Ph.D. Neurologis Klinis dalam Praktek Umum. Hal 7
Sidharta, Priguna M.D. Ph.D. 1999. Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Hal : 115 – 131, 434 – 443.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PASIEN DENGAN MYOKARD INFARK (MI)

Jumat, 24 Juni 2011


PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PASIEN DENGAN MYOKARD INFARK (MI)

I. PENDAHULUAN


A. Definisi

Miokard Infark/ Myocard Infarc (MI) dikenal juga dengan suatu serangan jantung (heart attack) merupakan keadaan nekrosis atau matinya otot jantung akibat sumbatan berupa bekuan darah pada arteri coronaria (Kulick Daniel dan Lee Dennis, 2010). Sumbatan pada arteri koronaria mengganggu aliran darah dan oksigen ke otot jantung sehingga menyebabkan injuri pada otot jantung. Jika aliran darah ke otot jantung tidak lancar dalam 20 sampai 40 menit, akan terjadi kematian jantung ireversibel. Selanjutnya otot jantung akan mati dalam enam sampai delapan jam yang menyebabkan serangan jantung (heart attack). Otot jantung yang mati akhirnya digantikan oleh scar tissue.

Dalam pemahaman yang serupa Fenton, Drew (2009) mendefinisikan miokard infark sebagai nekrosis miokardium yang disebabkan oleh ketidakseimbangan yang kritis antara suplai oksigen dan kebutuhan dari miokardium. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa miokard infark adalah nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung.


B. Prevalensi

Miokard Infark merupakan bagian dari jenis penyakit jantung iskemik yang paling sering terjadi di negara industri. Di Amerika Serikat, diperkirakan 1,5 juta orang menderita miokard infark per tahun, dengan kematian sekitar 500.000. Pada kasus yang fatal, hampir separuh pasien meninggal sebelum sampai ke rumah sakit (Kumar, Cotran, Robbins, 2007). Di tanah air Indonesia angka kejadian penyakit jantung secara umum terus meningkat. Bahkan pada tahun 2000, penyakit jantung telah menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia (Ulfah Anna, 2000).

Insiden miokard infark meningkat sesuai penambahan usia, dan lebih sering pada usia lebih dari 45 tahun. Kumar, Cotran, Robbins (2007) mengatakan bahwa laki-laki memiliki kemungkinan terkena miokard infark empat sampai lima kali dibandingkan perempuan.


C. Etiologi dan Faktor Resiko

Menurut Fenton Drew (2009), penyebab yang paling sering dari miokard infark adalah plak atherosclerosis pada arteri koronaria diikuti spasme arteri dan pembentukan thrombus. Bolooki H Michael dan Bajzer Christopher (2010) mengungkapkan bahwa terdapat enam faktor resiko utama yang berkaitan dengan perkembangan kondisi aterosklerotik arteri koroner yakni ; level kolesterol darah yang tinggi (hyperlipidemia), diabetes mellitus, hipertensi, perokok, jenis kelamin pria dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung.


D. Patogenesis

Nekrosis mikardium dimulai 20 sampai 40 menit oklusi arteri koronaria, dan dimulai pada regio endokardium. Dalam keadaan normal region ini merupakan bagian yang paling terakhir menerima darah dari cabang arteri koronaria epikardium. Zona nekrosis meluas ke arah eksternal dalam beberapa jam kemudian sehingga mengenai daerah mid- dan sub- epikardium miokardium. Infark biasanya mencapai ukuran penuh dalam tiga sampai enam jam. Seiring dengan waktu, gelombang kematian sel bergerak dari daerah sub endokardium ke seluruh ketebalan ventrikel (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).

Ukuran infark dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara umum, oklusi segmen arteri koronaria yang lebih proksimal menimbulkan infark yang lebih besar, mengenai seluruh ketebalan miokardium. Sebaliknya, thrombus di cabang arteri yang lebih distal cenderung menyebabkan infark yang lebih kecil (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).





E. Tanda dan Gejala

Menurut Bolooki H Michael dan Bajzer Christopher (2010), beberapa karakteristik gejala pada kondisi miokard infark adalah :

- Nyeri dada substernum.

Nyeri ini digambarkan seperti ditekan (pressure sensation), terasa penuh (fullness), sesak atau diremas-remas (squeezing sensation). Nyeri dapat dirasakan menyebar ke leher, rahang, epigastrium, bahu, lengan kiri dan bagian punggung.

- Dyspnea

- Ketidaknyamanan pada epigastrium (mual) tanpa dan disertai muntah

- Berkeringat (diaphoresis)

- Merasa lemah dan pingsan

Pada sekitar 50% pasien, miokard infark didahului oleh serangan-serangan angina pectoris. Namun berbeda dengan nyeri pada angina pectoris, nyeri pada miokard infark biasanya berlangsung beberapa jam sampai hari. Sebagian kecil pasien miokard infark tidak merasakan nyeri dada. Miokard infark “silent” ini terutama terjadi pada pasien dengan diabetes mellitus, hipertensi serta pada pasien berusia lanjut (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).


F. Pemeriksaan dan Diagnosis

Dalam mengidentifikasi kondisi miokard infark diperlukan beberapa pemeriksaan meliputi Pemeriksaan Fisik, Elektrokardiografik (EKG) dan Tes Darah melalui Laboratorium.

1. Pemeriksaan Fisik (Baliga dan Julian, 2005)

- Dalam keadaan akut melalui inspeksi pasien terlihat cemas, sedih dan gelisah

- Pasien merasa nyeri dada

- Sesak napas

- Wajah terlihat pucat dan berkeringat

- Tekanan vena jugularis biasanya normal atau sedikit meningkat pada kondisi akut

- Tachyarrhythmias atau Bradycardia

- Tekanan darah biasanya menurun dan akan kembali normal secara perlahan selang 2 sampai 3 minggu. Hipertensi yang sifatnya sementara (transient hypertension) dapat terjadi akibat nyeri yang intens.

- Bunyi jantung ketiga sering terdengar jika terjadi gagal jantung atau syok

- Bunyi ke empat (atrial sound) dapat didengar pada sebagian besar pasien

- Demam jarang mencapai 38°C pada 24 jam awal serangan.

2. Pemeriksaan Elektrokardiografik

Kelainan elektrokardiografik merupakan manifestasi penting pada miokard infark. Elektrokardiografik merekam aktivitas elektrik dari jantung. Bolooki H Michael dan Bajzer Christopher (2010) mengungkapkan bahwa kelainan pada miokard infark diantaranya mencakup perubahan segmen S-T yakni ada tidaknya elevasi, yang dikenal dengan STEMI (ST-elevation MI) dan NSTEMI (non-ST-elevation-MI). Kumar, Cotran, Robbins (2007) menambahkan bahwa manifestasi kelainan miokard infark pada elektrokardiografi mencakup perubahan gelombang Q dan inversi gelombang T. Fenton, Drew (2009) menambahkan pemeriksaan penunjang lainnya dalam identifikasi miokard infark yaitu radiografi dada seperti echocardiografi. Pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi komplikasi miokard infark seperti insufisiensi valvular, disfungsi ventrikular dan pericardial effusion.

3. Pemeriksaan Laboratorium

Evaluasi laboratorium merupakan bagian integral dalam penatalaksanaan klinis pasien yang dicurigai mengidap miokard infark. Berbagai penanda miokardium yang digunakan untuk memantau miokard infark adalah sebagai berikut :

a) Kreatin kinase (CK) adalah suatu enzim yang terkonsentrasi di otak, miokardium dan otot rangka. Enzim tersebut terdiri dari dua dimer yang dinamai “M” dan “B”. CK-MM terutama berasal dari otot rangka dan jantung; CK-BB dari otak, paru dan banyak jaringan lain; dan CK-MB terutama dari miokardium, walaupun bentuk ini juga terdapat di otot rangka dalam jumlah bervariasi (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).

Menurut Sutedjo, AY (2008), nilai normal CK adalah sebagai berikut :

Dewasa pria : 5-35 Ug/ml atau 30-180 IU/L

Wanita : 5-25 Ug/ml atau 25-150 IU/L

Anak laki-laki : 0-70 IU/L

Anak wanita : 0-50 IU/L

Bayi baru lahir : 65-580 IU/L

Aktivitas CK total mulai meningkat dalam 2 sampai 4 jam setelah onset miokard infark, memuncak pada 24 jam, dan kembali ke normal dalam waktu sekitar 72 jam. Spesifisitas untuk mendeteksi miokard infark ditingkatkan dengan mengukur fraksi CK-MB. Jumlah CK-MB relative terhadap CK total jauh lebih tinggi pada miokard infark daripada penyakit lain yang CK-nya meningkat (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).

b) Troponin adalah sekelompok protein yang ditemukan pada otot rangka dan jantung manusia. Protein ini mengendalikan kontraksi otot yang diperantarai oleh kalsium. Dengan menggunakan pemeriksaan imunologik yang sensitive, dapat dibedakan troponin T (cTnT) dan troponin I (cTnI) jantung dari troponin yang berasal dari otot rangka (Kumar, Cotran, Robbins, 2007).

Menurut Sutedjo, AY (2008), nilai normal troponin adalah < 0,16 μg/L.

Setelah miokard infark akut, kadar cTnT dan cTnI meningkat pada waktu yang hampir sama dengan CK-MB. Kadar troponin tetap tinggi selama empat sampai tujuh hari setelah proses akut.

c) Laktat Dehidrogenase (LD) adalah enzim miokardium lain yang dahulu digunakan secara luas untuk mengevaluasi kasus yang dicurigai miokard infark. Dengan diperkenalkannya pemeriksaan troponin, pengukuran kadar LD untuk diagnosis miokard infark umumnya ditinggalkan (Kumar, Cotran, Robbins, 2007). Menurut Sutedjo, AY (2008), nilai normal laktat dehidrogenase adalah 80-240 U/L.


d) SGOT (Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase). Sutedjo, AY (2008) mengungkapkan bahwa selain ketiga unsur di atas, enzim SGOT pada infark jantung akan meningkat setelah 12 jam dan mencapai puncak setelah 24-36 jam kemudian. Selanjutnya enzim ini akan kembali normal pada hari ketiga sampai hari kelima. Nilai normalnya adalah:

Laki-laki sampai dengan 37 U/L

Wanita sampai dengan 31 U/L


G. Differential Diagnosis

Beberapa differential diagnosis berkaitan dengan miokard infark adalah Aortic Stenosis, Myocarditis, dan Congestive Heart Failure (Fenton Drew, 2009).


H. Komplikasi

Menurut Kulick Daniel dan Lee Dennis (2010), komplikasi yang dapat terjadi akibat miokard infark adalah gagal jantung. Apabila sejumlah besar otot jantung nekrosis, kemampuan jantung untuk memompa darah berkurang dan dapat menyebabkan gagal jantung. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah ventricular fibrillation. Fibrilasi ventricular terjadi ketika aktivitas elektrik dari kontraksi otot jantung yang normal dan regular digantikan oleh aktivitas elektrik yang kacau atau semrawut, menyebabkan jantung berhenti berdenyut dan memompa darah ke otak serta bagian tubuh lainnya.

Dalam wikipedia (2010), komplikasi lain yang dapat terjadi pada kondisi miokard infark adalah myocardial rupture, arrhythmia, pericarditis, dan cardiogenic shock.


I. Prognosis

Prognosis post miokard infark sangat bervariasi, bergantung pada kesehatan individu, kerusakan jantung yang terjadi dan pengobatan yang diberikan. Pada periode 2005 – 2008 di Amerika Serikat angka kematian pada 30 hari mencapai 16,6%. Salah satu penelitian menemukan bahwa 0,4% pasien yang berisiko rendah meninggal setelah 90 hari dan pasien yang beresiko tinggi sebesar 21,1%. Prognosis memburuk secara signifikan jika terjadi komplikasi mekanikal seperti rupture dinding miokardial (wikipedia, 2010).


J. Pengobatan

Menurut Fenton, Drew (2009), tujuan pengobatan pada kondisi miokard infark adalah mengembalikan keseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan tubuh untuk mencegah iskemik lebih lanjut, mengurangi nyeri dan pencegahan serta pengobatan komplikasi. Beberapa jenis pengobatan yang diberikan pada penderita miokard infark adalah :

1. Obat-obatan, antara lain : antikoagulan dan antiplatelet (misalnya : aspirin), nitroglycerin, beta blocker, analgesik (misalnya : morfin sulfat), ACE inhibitor, supplemental oxygen, dan glycoprotein (GP) IIb/IIIa-receptor antagonist.

2. Fibrinolitics Therapy

3. Percutaneous Coronary Intervention (PCI), yaitu pengobatan yang bertujuan melebarkan arteri koronaria yang menyempit tanpa melakukan operasi. PCI meliputi : balloon catheter angioplasty dan stenting.

4. Surgical Revascularization, yakni pengembalian aliran darah lewat emergency CABG (Coronary Artery Bypass Grafting).

5. Healty Lifestyle (gaya hidup sehat).


K. Fisioterapi

Menurut Thompson, Ann (1991), dalam menyusun program penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi jantung perlu diperhatikan beberapa hal penting yaitu : faktor usia, pekerjaan, riwayat penyakit, keadaan mental, keadaan jantung, dan keparahan penyakit.

Tanda–tanda dan gejala yang perlu perhatian khusus dalam memberikan rehabilitasi pasien gangguan jantung adalah: dyspnea, denyut nadi, nyeri dada, kelelahan, pusing, kram dan elektrokardiogram yang abnormal.

Hal–hal yang perlu dinilai selama program latihan terhadap pasien dengan gangguan jantung adalah : tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan electrocardiogram monitoring.

Mackinnon, Laurel et al. (2003) mengungkapkan bahwa latihan (exercise) yang dilakukan secara teratur memiliki efek positif terhadap fungsi kardiovaskuler yakni :

- Meningkatkan stroke volume dan ejection fraction

- Meningkatkan fungsi otot jantung dengan mengurangi “ afterload”

- Mengurangi kebutuhan oksigen otot jantung dengan menurunkan tekanan darah dan denyut jantung pada waktu istirahat dan selama latihan sub maksimal

- Mengurangi viskositas darah dan agregasi platelet

- Meningkatkan kepadatan kapiler pada otot skelet

- Menurunkan sirkulasi catecholamine selama latihan sub maksimal

Secara khusus pada kondisi miokard infark, latihan secara teratur memiliki efek anti trombosis (misalnya menghambat pembentukan bekuan darah) dengan mengurangi viskositas darah dan menghambat agregasi platelet.

Program fisioterapi dapat dibagi berdasarkan lima masa atau periode yaitu :

1. Complete bed rest sampai hari ke-2

2. Parsial bed rest sampai hari ke-4

3. Di rumah sakit mulai hari ke empat sampai 2 minggu. Total di rumah sakit 2 sampai 3 minggu.

4. Setelah keluar dari rumah sakit (3 - 12 minggu).

5. Rehabilitasi rawat jalan (3 sampai 9 bulan).

Complete Bed Rest

Pada fase ini tujuan penatalaksanaan fisioterapi adalah :

1. Mencegah akumulasi cairan atau lendir pada paru–paru.

2. Mencegah deep vein thrombosis.

3. Mengajari dan memotivasi pasien untuk rileksasi.

4. Mencegah pressure sores.

5. Menjelaskan tujuan program latihan aktif.

Tekhnik yang dilakukan adalah :

1. Latihan rileksasi

2. Latihan pernafasan

3. Latihan gerakan pasif

4. Latihan aktif


Contoh program secara sistematis :

1. Rileksasi

Pasien dalam posisi lying atau half lying dan diinstruksikan untuk menekan shoulder ke tempat tidur kemudian kembali ke posisi semula untuk mendapatkan rileksasi otot-otot shoulder girdle; atau dinstruksikan untuk stretch jari-jari, tangan menekan ke tempat tidur, kemudian kembali ke posisi semula.

2. Latihan Pernafasan

Bilateral Basal breathing mengajarkan kepada pasien untuk menggunakan basis paru dengan pola respirasi yang normal. Tidak diberikan force baik pada inspirasi maupun ekspirasi yang dapat meningkatkan beban jantung. Mengajarkan pasien untuk respirasi secara pelan ( tidak diberikan force) akan meningkatkan oksigenasi darah sehingga menurunkan kebutuhan/permintaan jantung.

3. Gerakan aktif (Posisi lying atau half lying)

a. Jari-jari kaki dan pergelangan kaki ditekuk dan stretching, 5 kali pengulangan.

b. Salah satu kaki berputar ke arah luar dan dalam, 5 kali pengulangan.

c. Ulangi dengan kaki lainnya, 5 kali pengulangan.

d. Jari-jari tangan dilipat dan stretching, 5 kali pengulangan.

e. Pergelangan tangan ditekuk dan stretching, 5 kali pengulangan.

4. Latihan Pernafasan

Anterior basal expansion (Pengembangan bagian anterior basal) dengan pola yang normal, 3 kali pengulangan.

5. Gerakan Pasif (Posisi lying atau half lying)

a. Salah satu hip dan knee ditekuk dan stretching, 1 kali pengulangan.

b. Salah satu tungkai diputar ke dalam dan ke luar, 1 kali pengulangan.

c. Salah satu tungkai dibuka ke arah samping kemudian kembali ke posisi semula, 1 kali pengulangan kemudian ulangi pada tungkai lainnya.

d. Salah satu elbow di bengokkan dan stretching, 1 kali pengulangan.

e. Salah satu lengan membuka ke arah samping kemudian kembali ke posisi semula, 1 kali pengulangan kemudian ulangi pada lengan lainnya.

Gerakan ini akan memelihara Range of Motion (ROM) dan dilakukan secara perlahan sejauh ROM yang dapat dicapai pasien.

6. Latihan Pernafasan

Pengembangan bagian posterior basal pada pola yang normal, 3 kali pengulangan.

7. Gerakan Pasif

Pasien dalam posisi terlentang jika memungkinkan, salah satu hip dan knee ditekuk dan stretching, 5 kali pengulangan kemudian ulangi dengan hip dan knee tungkai lainnya.

Gerakan ini bertujuan untuk menjaga sirkulasi dan mencegah deep vein thrombosis.

8. Rileksasi

Dilakukan rileksasi seperti pada awal program. Pada treatment hari ke-2, gerakan pasif dan/atau aktif dapat ditingkatkan dengan 1 repetisi/pengulangan.


Partial Bed Rest

Pasien telah duduk selama 1-2 jam per hari. Makan, membersihkan diri dan penggunaan kamar kecil dibolehkan.

Tujuan Fisioterapi adalah :

1. Mempertahankan kebersihan lapangan paru.

2. Mengajarkan pasien untuk mengenali tanda dan gejala latihan yang berlebihan.

3. Memulai membangun kepercayaan diri pasien.

4. Melatih kesadaran/adaptasi postural.

5. Meningkatkan kekuatan otot tungkai dan trunk.

Contoh Program :

1. Half lying, rileksasi 5 kali pengulangan.

2. Latihan bernafas dengan posterior basal breathing, 3 kali pengulangan.

3. Half lying atau lying, dilakukan plantar dan dorsi fleksi kedua pergelangan kaki secara bergantian 5 kali pengulangan, kemudian memutar pergelangan kaki 5 kali pengulangan setiap arah, statik kontraksi quadriceps yang ditahan sekitar 5 hitungan dan 3 kali pengulangan, static kontraksi gluteal yang ditahan sekitar 5 hitungan dan 3 kali pengulangan.

4. Diafragmatik breathing (anterior basal breathing).

5. Duduk, koreksi postur.

6. Duduk, lengan ditekuk , stretching ke atas, ditekuk lagi kemudian stretching ke bawah, 10 kali pengulangan.

7. Half lying, lateral basal breathing.

8. Lying, salah satu hip dan knee ditekuk dan stretching 3 kali pengulangan kemudian ulangi pada tungkai lainnya 3 kali pengulangan. Selanjutnya buka salah satu tungkai ke samping kemudian kembalikan ke posisi semula 3 kali pengulangan, dan ulangi pada tungkai lainnya.

9. Lying, rileksasi + koreksi postur.

10. Crook lying; kepala dan shoulder menekan ke arah belakang dan ditahan selama 5 hitungan dan 3 kali pengulangan.

Progress Latihan dicapai dengan :

- Menambah 1 repetisi pada tiap jenis latihan.

- Menginstruksikan pasien untuk mengulangi latihan jari-jari dan kaki 4 kali sehari.

- Tambahkan latihan seperti menggerakkan atau memutar trunk dari salah satu sisi ke sisi lainnya.

- Tambahkan berjalan sedikit di sekitar tempat tidur.

Dalam pelaksanaan program, fisioterapis menjelaskan tujuan peningkatan latihan yang diberikan. Sebelum dan sesudah program, pasien diajarkan untuk mengenali tanda-tanda peringatan dari latihan yang berlebihan (nyeri dada, kelelahan, pusing dan kram).


Selama di Rumah Sakit

Pasien diijinkan untuk mandi, makan, ke toilet dan mandi dengan pengawasan. Pada fase ini kadang pasien sebaiknya berpakaian seperti pakaian yang dipakai di rumah setiap hari.

Tujuan fisioterapi adalah:

1. Melanjutkan peningkatan hipertropi otot jantung untuk menguatkan trunk dan otot-otot tungkai.

2. Melanjutkan upaya peningkatan kepercayaan diri pasien.

3. Meningkatkan toleransi latihan.

4. Mengajarkan kesadaran dan kepekaan pada kapasitas latihan.

Contoh Program :

1. Hentikan rileksasi secara formal tapi ingatkan pasien akan kebutuhan merilekskan leher dan shoulder girdle.

2. Hentikan latihan pernafasan secara segmental.

3. Hentikan latihan segmental pada lengan dan tungkai, dan pasien sebaiknya melakukan latihan pada kaki dan pergelangan kaki 2 kali setiap hari.

4. Stride Standing (Berdiri dengan berpegangan pada kursi atau pinggiran tempat tidur). Hip dan knee ditekuk kemudian distretching, 5 kali pengulangan.

5. Berdiri, lengan meraih ke depan, ke atas dan ke bawah, 5 kali pengulangan.

6. Berdiri dengan berpegang pada kursi atau pinggiran tempat tidur, salah satu hip dan knee ditekuk kemudian distretching ke belakang, 5 kali pengulangan dan diulangi dengan tungkai lainnya.

7. Berdiri, pastikan posturnya tegak kemudian berjalan dengan jarak pendek yang secara bertahap ditingkatkan sampai mengelilingi ruangan atau bangsal rumah sakit, 3 kali pengulangan. Lengan diupayakan bebas bergerak.

8. Duduk, latihan pernafasan secara general, 3 kali pengulangan.

9. Duduk, trunk dibengkokkan dari sisi kiri ke kanan atau sebaliknya, 3 kali pengulangan.

10. Duduk, trunk diputar dari sisi kiri ke kanan atau sebaliknya, 3 kali pengulangan.

11. Setiap latihan ditingkatkan dengan menambah 1 kali pengulangan setiap harinya. Kira-kira pertengahan minggu kedua :

- Berjalan naik dan turun tangga pada 1 anak tangga. Peningkatannya latihan dilakukan pada 2 anak tangga.

- Berpakaian dan berjalan ke taman atau toko yang ada di rumah sakit.

12. Peningkatan kepercayaan diri pasien :

- Pasien merasa lebih sehat sepanjang hari menggunakan pakaian sehari-hari.

- Pasien diijinkan untuk aktivitas seperti pergi ke toko yang ada di rumah sakit, membantu keperluan pasien lainnya.

Pemantauan kapasitas latihan :

Diskusikan dengan pasien indikasi untuk istirahat atau menghentikan latihan bila timbul tanda dan gejala seperti dyspnea, nyeri dada atau sesak, denyut jantung meningkat dan merasa pusing.


Setelah Keluar Dari Rumah Sakit

Pasien sebaiknya meninggalkan rumah sakit dengan instruksi seorang spesialis kardiologi untuk pengaturan aktivitas di rumah (home management). Contohnya, pasien disarankan untuk istirahat pada malam hari selama 8-10 jam dan sore hari selama 1-2 jam. Biasanya pasien disarankan untuk tidak mengendarai kendaraan sebelum 4-8 minggu setelah keluar dari rumah sakit.






Rehabilitasi Rawat Jalan

Rehabilitasi setelah keluar dari rumah sakit biasanya dilakukan secara grup atau aktivitas di gymnasium. Pasien dapat bertemu dengan sesama penderita dalam grup tersebut.


Tujuan fisioterapi :

1. Meningkatkan toleransi latihan.

2. Mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan diri.

3. Memberikan support dan motivasi.

4. Membantu mengurangi faktor resiko dan kemungkinan berulangnya serangan jantung.

Contoh latihan untuk meningkatkan toleransi latihan dan kepercayaan diri :

1. Dilakukan pemanasan sebelum latihan dengan gerakan seperti :

- Duduk, lengan diayunkan ke depan dan belakang, 10 kali pengulangan.

- Duduk, lutut dibengkokkan dan diluruskan, 5 kali pengulangan setiap tungkai.

- Duduk, trunk diputar ke salah satu sisi dengan gerakan lengan bebas, 5 kali pengulangan untuk setiap sisi.

2. Berdiri, salah satu tungkai diayunkan ke depan dan belakang, 10 kali pengulangan dan diulangi pada tungkai lainnya.

3. Berdiri, trunk dibengkokkan kemudian lengan kanan menyentuh lutut kiri dan kembali ke posisi semula, ulangi dengan lengan kiri menyentuh lutut kanan, 10 kali pengulangan masing-masing gerakan.

4. Berbaring, hip dan knee secara bergantian dibengkokkan dan diluruskan, 10 kali pengulangan.

5. Duduk berhadapan dengan pasien lainnya kemudian saling melempar dan mengambil bola, dilakukan selama 2 menit.

6. Berdiri, naik dan turun pada stool yang rendah selama 2 menit.

7. Berdiri, lengan distretch ke depan dengan permukaan tangan pada dinding, 20 kali pengulangan.

8. Duduk, berdiri dan duduk kembali, 10 kali pengulangan.

9. Duduk, genggam tongkat dan angkat sampai agak ke belakang dari shoulder kemudian trunk diputar dari sisi kiri ke kanan atau sebaliknya, 10 kali pengulangan.

10. Crook lying, pelvis diangkat dan turunkan kembali, 5 kali pengulangan.

Latihan-latihan tersebut hanya membutuhkan peralatan yang sederhana dan dapat diadopsi untuk dijadikan latihan di rumah.

III. PENUTUP

Miokard infark adalah gangguan jantung berupa nekrosis miokardium yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan dari miokardium. Berbagai faktor resiko yang sebagian besar muncul dari pola hidup tidak sehat dapat menimbulkan gangguan pada jantung. Kondisi ini merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi sehingga perlu mendapat perhatian yang serius, mulai dari pencegahan, pengobatan sampai rehabilitasi yang melibatkan kerjasama berbagai elemen profesi kesehatan secara khusus. Peranan fisioterapi dalam rehabilitasi miokard infark dapat dilakukan melalui latihan (exercise) secara bertahap sesuai kondisi pasien. Latihan yang dilakukan secara benar dan teratur, memperhatikan berbagai hal vital terkait kondisi pasien diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pasien dalam proses penyembuhan sehingga pasien dapat kembali melaksanakan aktivitas sehari-hari. Melalui penanganan yang komprehensif dan sistematis, kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan secara optimal.











DAFTAR PUSTAKA


Baliga, Ragavendra.2005. Cardiology. Elesevier Mosby. Philadelphia

Bolooki H Michael dan Bajzer Christopher. 2010. Acute Myocardial Infarction. Diakses tanggal 15 Mei dari http://www.clevelandclinicmeded.com

Fenton, Drew. 2009. Myocardial Infarction. Diakses tanggal 15 Mei dari http://emedicine.medscape.com

Julian, Desmond. Cowan, J. McLenachan, James. 2005. Cardiology (8th ed). Elsevier Saunders. USA

Kulick Daniel dan Lee Dennis. 2010. Heart Attack (Myocardial Infarction). Diakses tanggal 15 Mei dari http://www.medicinenet.com

Kumar, Cotran, Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi, volume 2 (edisi 7). EGC. Jakarta

Mackinnon, Laurel. Ritchie, Carrie et al. 2003. Exercise Management, Concepts and Professional Practice. Human Kinetics. USA

Sutedjo, AY. 2008. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui HasilPemeriksaan Laboratorium. Amara Books. Yogyakarta

Thompson, Ann.1991. Tidy’s Physiotherapy. Twelfth edition. Butterworth Heinemann. Oxford

Penanganan fisioterapi pada HNP

Rabu, 24 November 2010

A. Pengertian

Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)

HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik) (Harsono, 1996)

HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.

Hernia Nukleus pulposus (HNP) atau potrusi Diskus Intervertebralis (PDI)adalah suatu keadaan dimana terjadi penonjolan pada diskus intervertebralis ke dalam kanalis vertebralis (protrusi diskus ) atau nucleus pulposus yang terlepas sebagian tersendiri di dalam kanalis vertebralis (rupture discus).

Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)

B. Etiologi

HNP sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5 –S1 kemudian pada C5-C6 dan paling jarang terjadi pada daerah torakal, sangat jarang terjadi pada anak-anak dan remaja tapi kejadiannya meningkat dengan umur setelah 20 tahun. HNP terjadi karena proses degenratif diskus intervetebralis.

C. Gejala

Gejala utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan .

HNP terbagi atas :

1. HNP sentral

HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia, dan retensi urine

2. HNP lateral

Rasa nyeri terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah abtra pantat dan betis, belakang tumit dan telapak kaki.Ditempat itu juga akan terasa nyeri tekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan refleks achiler negatif. Pada HNP lateral L 4-5 rasa nyeri dan tekan didapatkan di punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan ekstensi ibu jari kaki berkurang dan refleks patela negatif. Sensibilitas [ada dermatom yang sdesuai dengan radiks yang terkena menurun. Pada percobaan lasegue atau test mengnagkat tungkai yang lurus (straigh leg raising) yaitu mengangkat tungkai secara lurus dengan fleksi di sendi panggul, akan dirasakan nyeri disepanjang bagian belakang (tanda lasefue positif).

D. Patofisiologi

Nukleus pulposus terdiri dari jaringan penyambung longgar dan sel-sel kartilago yang mempunyai kandungan air yang tinggi. Nukleus pulposus bergerak, cairan menjadi padat dan rata serta melebar di bawah tekanan dan menggelembungkan annulus fibrosus.

Menjebolnya nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteri radikulasi berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi bila penjebolan di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya di tengah, maka tidak ada radiks yang terkena.

Salah satu akibat dari trauma sedang yang berulangkali mengenai diskus intervertebrais adalah terobeknya annulus fibrosus. Pada tahap awal, robeknya anulus fibrosus itu bersifat sirkumferensial, karena gaya traumatik yang berkali-kali, berikutnya robekan itu menjadi lebih besar dan disamping itu timbul sobekan radikal. Kalau hal ini sudah terjadi, maka soal menjebolnya nukleus pulposus adalah soal waktu dan trauma berikutnya saja.

Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.

Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.

Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.

Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.

Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002).

Diskus intervertebral dibentuk oleh dua komponen yaitu; nukleus pulposus yang terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan dibentuk oleh anulus fibrosus yang mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri dari jaringan pengikat yang kuat.

Nyeri tulang belakang dapat dilihat pada hernia diskus intervertebral pada daerah lumbosakral, hal ini biasa ditemukan dalam praktek neurologi. Hal ini biasa berhubungan dengan beberapa luka pada tulang belakang atau oleh tekanan yang berlebihan, biasanya disebabkan oleh karena mengangkat beban/ mengangkat tekanan yang berlebihan (berat). Hernia diskus lebih banyak terjadi pada daerah lumbosakral, juga dapat terjadi pada daerah servikal dan thorakal tapi kasusnya jarang terjadi. HNP sangat jarang terjadi pada anak-anak dan remaja, tetapi terjadi dengan umur setelah 20 tahun.

Menjebolnya (hernia)nucleus pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis vertbralis. Menjebolnya sebagian dari nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat dari foto roentgen polos dan dikenal sebagai nodus Schmorl. Robekan sirkumferensial dan radikal pada nucleus fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya nodus schomorl merupakan kelainan mendasari “low back pain”sub kronik atau kronik yang kemudian disusun oleh nyeri sepanjang tungkai yang dikenal sebagai khokalgia atau siatika.

E. Manifestasi Klinis

Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).

Pemeriksaan Diagnostik

1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang

2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal
lumbal.

3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I

4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.

F. INSIDENS

- Hernia Iumbo Sakral lebih dari 90 %

- Hernia Sercikal 5-10 % .

1. Hernia Lumbosacralis

Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka posisi fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma adalah kejadian yang berulang. Proses penyusutan nukleus pulposus pada ligamentum longitudinal posterior dan annulus fibrosus dapat diam di tempat atau ditunjukkan/dimanifestasikan dengan ringan, penyakit lumbal yang sering kambuh. Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan nucleus pulposus prolaps, mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus posterior. Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai anulus atau menjadi “extruded” dan melintang sebagai potongan bebas pada canalis vertebralis. Lebih sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol sampai pada celah anulus, biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang ditengah), dimana mereka mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut syaraf. Tonjolan yang besar dapat menekan serabut-serabut saraf melawan apophysis artikuler.

2. Hernia Servikalis

Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan kolumma vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal menghilang. Otot-otot leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang menurun atau menghilang Hernia ini melibatkan sendi antara tulang belakang dari C5 dan C6 dan diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol keluar posterolateral mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan nyeri radikal yang mana selalu diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan kulit.

3. Hernia Thorakalis

Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejala-gejalannya terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian bawah, membuat kejang paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan paraparese.

Penonjolan pada sendi intervertebral toracal masih jarang terjadi (menurut love dan schorm 0,5 % dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada empat thoracal paling bawah atau tempat yang paling sering mengalami trauma jatuh dengan posisi tumit atau bokong adalah faktor penyebab yang paling utama.

G. GAMBARAN KLINIK

1. Henia Lumbosakralis

Gejala pertama biasanya low back pain yang mula-mula berlangsung dan periodik kemudian menjadi konstan. Rasa nyeri di provokasi oleh posisi badan tertentu, ketegangan hawa dingin dan lembab, pinggang terfikasi sehingga kadang-kadang terdapat skoliosis.

Gejala patognomonik adalah nyeri lokal pada tekanan atau ketokan yang terbatas antara 2 prosesus spinosus dan disertai nyeri menjalar kedalam bokong dan tungkai. “Low back pain” ini disertai rasa nyeri yang menjalar ke daerah iskhias sebelah tungkai (nyeri radikuler) dan secara refleks mengambil sikap tertentu untuk mengatasi nyeri tersebut, sering dalam bentuk skilosis lumbal.

Syndrom Perkembangan lengkap syndrom sendi intervertebral lumbalis yang prolaps terdiri :

1. Kekakuan/ketegangan, kelainan bentuk tulang belakang.

2. Nyeri radiasi pada paha, betis dan kaki

3. Kombinasi paresthesiasi, lemah, dan kelemahan refleks

Nyeri radikuler dibuktikan dengan cara sebagai berikut :

1. Cara Kamp. Hiperekstensi pinggang kemudian punggung diputar kejurusan tungkai yang
sakit, pada tungkai ini timbul nyeri.

2. Tess Naffziger. Penekanan pada vena jugularis bilateral.

3. Tes Lasegue. Tes Crossed Laseque yang positif dan Tes Gowers dan Bragard yang positif.

Gejala-gejala radikuler lokasisasinya biasanya di bagian ventral tungkai atas dan bawah. Refleks lutut sering rendah, kadang-kadang terjadi paresis dari muskulus ekstensor kuadriseps dan muskulus ekstensor ibu jari.

2. Hernia servicalis

- Parasthesi dan rasa sakit ditemukan di daerah extremitas (sevikobrachialis)

- Atrofi di daerah biceps dan triceps

- Refleks biceps yang menurun atau menghilang

- Otot-otot leher spastik dan kakukuduk.

3. Hernia thorakalis

- Nyeri radikal

- Melemahnya anggota tubuh bagian bawah dapat menyebabkan kejang paraparesis

- Serangannya kadang-kadang mendadak dengan paraplegia

H. GAMBARAN RADIOLOGIS

Dapat dilihat hilangnya lordosis lumbal, skoliosis, penyempitan intervertebral, “spur formation” dan perkapuran dalam diskus. Bila gambaran radiologik tidak jelas, maka sebaiknya dilakukan punksi lumbal yang biasanya menunjukkan protein yang meningkat tapi masih dibawah 100 mg %.

I. DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan amanesis, gambaran klinis dan gambaran radiologis. Ada adanya riwayat mengangkat beban yang berat dan berualangkali, timbulnya low back pain. Gambaran klinisnya berdasarkan lokasi terjadinya herniasi.

Diagnosa pada hernia intervertebral , kebocoran lumbal dapat ditemukan secepat mungkin. Pada kasus yang lain, pasien menunjukkan perkembangan cepat dengan penanganan konservatif dan ketika tanda-tanda menghilang, testnya tidak dibutuhkan lagi. Myelografi merupakan penilaian yang baik dalam menentukan suatu lokalisasi yang akurat yang akurat.

J. PENATALAKSANAAN

1. Hernia Lumbosacralis

Pada fase akut, pasien tidur diatas kasur yang keras beralaskan papan dibawahnya. Traksi dengan beban mulai 6 Kg kemudian berangsur-angsur dinaikkan 10 Kg. pada hernia ini dapat diberikan analgetik salisilat

2. Hernia Servicalis

Untuk HNP sevicalis, dapat dilakukan traksi leher dengan kalung glisson, berat beban mulai dari 2 Kg berangsur angsur dinaikkan sampai 5 Kg. Tempat tidur dibagian kepala harus ditinggikan supaya traksi lebih efektif.

Untuk HNP yang berat, dapat dilakukan terapi pembedahan pada daerah yang rekuren. Injeksi enzim chympapim kedalam sendi harus selalu diperhatikan.

3. Pembedahan

Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.

Macam :

a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral

b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks

c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.

d. Disektomi dengan peleburan.

2. Immobilisasi

Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.

4. Traksi

Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.

5. Meredakan Nyeri

Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.

K. PROGNOSIS

Terapi konservatif yang dilakukan dengan traksi merupakan suatu perawatan yang praktis dengan kesembuhan maksimal. Kelemahan fungsi motorik dapat menyebabkan atrofy otot dan dapat juga terjadi pergantian kulit.

L. Pemeriksaan Penunjang

- Foto Rontgen

Foto rontgen dari depan, samping, dan serong) untuk identifikasi ruang antar vertebra menyempit. Mielografi adalah pemeriksaan dengan bahan kontras melalu tindakan lumbal pungsi dan pemotrata dengan sinar tembus. Apabila diketahiu adanya penyumbatan.hambatan kanalis spinalis yang mungkin disebabkan HNP.

- Elektroneuromiografi (ENMG)

Untuk menegetahui radiks mana yang terkena / melihat adanya polineuropati.

- Sken tomografi

Melihat gambaran vertebra dan jaringan disekitarnya termasuk diskusi intervertebralis.

M. Pengkajian

1. Identitas

HNP terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis kelamin pria dan pekerjaan atau
aktivitas berat (mengangkat baran berat atau mendorong benda berat)

2. Keluahan Utama

Nyeri pada punggung bawah

- P: Trauma (mengangkat atau mendorong benda berat)

- Q: Sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat, mendenyut, seperti kena api, nyeri
tumpul atau kemeng yang terus-menerus. Penyebaran nyeri apakah bersifat nyeri
radikular atau nyeri acuan (referred fain). Nyeri tadi bersifat menetap, atau hilang timbul,
makin lama makin nyeri .

- R: Letak atau lokasi nyeri menunjukkan nyeri dengan setepat-tepatnya sehingga letak nyeri
dapat diketahui dengan cermat.

- S: Pengaruh posisi tubuh atau atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas tubuh, posisi
yang bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan memperberat nyeri. Pengaruh pada
aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti berjalan, turun tangga, menyapu, gerakan
yang mendesak. Obat-oabata yang ssedang diminum seperti analgetik, berapa lama
diminumkan.

- T: Sifanya akut, sub akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat menetap, hilng timbul, makin
lama makin nyeri.

3. Riwayat Keperawatan

a. Apakah klien pernah menderita Tb tulang, osteomilitis, keganasan (mieloma multipleks),
metabolik (osteoporosis)

b. Riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, bisa menimbulkan nyeri punggung bawah

4. Status mental

Pada umumny aklien menolak bila langsung menanyakan tentang banyak pikiran/pikiran sedang (ruwet). Lebih bijakasana bila kita menanyakan kemungkinan adanya ketidakseimbangan mental secara tidak langsung (faktor-faktor stres)

5. Pemeriksaan

Pemeriksaan Umum

A. Keadaan umum

Pemeriksaan tanda-tanda vital, dilengkapi pemeriksaan jantung, paru-paru, perut.

Inspeksi

- Inspeksi punggung, pantat dan tungkai dalam berbagai posisi dan gerakan untuk evalusi
neyurogenik

- Kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,adanya angulus, pelvis ya ng
miring/asimitris, muskulatur paravertebral atau pantat yang asimetris, postur tungkai yang
abnormal.

- Hambatan pada pegerakan punggung , pelvis dan tungkai selama begerak.

- Klien dapat menegenakan pakaian secara wajar/tidak

- Kemungkinan adanya atropi, faskulasi, pembengkakan, perubahan warna kulit.

Palpasi dan perkusi

- paplasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga tidak
membingungkan klien

- Paplasi pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasanyeri.

- Ketika meraba kolumnavertebralis dicari kemungkinan adanya deviasi ke lateral atau antero-
posterior

- Palpasi dna perkusi perut, distensi pewrut, kandung kencing penuh dll.

B. Neuorologik

Pemeriksaan motorik

- Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki, ibu jari dan jari lainnya dengan
menyuruh klien unutk melakukan gerak fleksi dan ekstensi dengan menahan gerakan.

- atropi otot pada maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanan-kiri.

- fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot tertentu.

Pemeriksan sensorik

Pemeriksaan rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa getar (vibrasi) untuk menentukan dermatom mana yang terganggu sehingga dapat ditentuakn pula radiks mana yang terganggu.

Pemeriksaan refleks

- Refleks lutut /patela/hammer (klien bebraring.duduk dengan tungkai menjuntai), pada HNP
lateral di L4-5 refleks negatif.

- Refleks tumit.achiles (klien dalam posisi berbaring, luutu posisi fleksi, tumit diletakkan diatas
tungkai yang satunya dan ujung kaki ditahan dalam posisi dorsofleksi ringan, kemudian tendon
achiles dipukul. Pada aHNP lateral 4-5 refleks ini negatif.

Pemeriksaan range of movement (ROM)

Pemeriksaan ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat nyeri, functio laesa, atau untuk mememriksa ada/tidaknya penyebaran nyeri.

N. Diagnosa Keperawatan yang Muncul

1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot

2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan
neuromuskulus

3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual

4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan
pengobatan.

O. Intervensi

1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot

1. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat.
Tetapkan skala 0 – 10
2. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam
keadaan fleksi, posisi telentang
3. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi
4. Bantu pemasangan brace / korset
5. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
6. Ajarkan teknik relaksasi
7. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi

2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan
neuromuskulus

1. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
2. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
3. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan
posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.
4. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi
5. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.
6. Kolaborasi : analgetik

3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual

1. Kaji tingkat ansietas pasien
2. Berikan informasi yang akurat
3. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis,
pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.
4. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan
mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
5. Libatkan keluarga

4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis

1. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan
2. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan
menggunakan sepatu penyokong
3. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.
4. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar
dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.
5. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
6. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk,
kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Smeltzer, Suzane C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3,
Jakarta : EGC, 2002

2. Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.

3. Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998.

4. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan Pajajaran, 1996.

5. Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996.

6. Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada
University Press, 1993

 
Raden Mas Fauzie

Buat Lencana Anda