Saya Fisioterapis



Pages

cari-cari

FRAKTUR

Senin, 16 Agustus 2010

Fraktur ( Patah Tulang )


Definisi
Fraktur merupakan terputusnya kontinyuitas dari tulang, lempeng epifisis, atau tulang rawan sendi.

Jenis
Terdapat berbagai macam jenis fraktur. Untuk lebih sistematisnya, dapat dibagi berdasarkan:
  • Lokasi
    Fraktur dapat terjadi di di berbagai tempat pada tulang seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi.
  • Luas
    Terbagi menjadi fraktur lengkap dan tidak lengkap. Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak.
  • Konfigurasi
    Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif.
  • Hubungan antar bagian yang fraktur
    Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced).
  • Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar
    Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar).
  • Komplikasi
    Fraktur dapat terjadi dengan disertai komplikasi, seperti gangguan saraf, otot, sendi, dll atau tanpa komplikasi


        Retak             Spiral               Kominutif      Transversal    Displaced
Gejala Klinis
  • Adanya fraktur dapat ditandai dengan adanya :
  • Pembengkakan. Kecuali frakturnya terjadi jauh didalam seperti pada tulang leher atau tulang paha.
  • Perubahan bentuk, dapat terjadi angulasi (terbentuk sudut), rotasi (terputar), atau pemendekan.
  • Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur.
Pemeriksaan Tambahan
Biasanya dengan tanya jawab dan pemeriksaan fisik yang cermat, diagnosis fraktur sudah dapat ditegakkan. Pemeriksaan pencitraan (seperti roentgen) dapat membantu dalam melihat jenis dari frakturnya sehingga dapat membantu dalam pemilihan terapi selanjutnya. Hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan roentgen adalah hasilnya harus meliputi dua sendi, dua sisi, dan dua tulang (kanan dan kiri). Roentgen juga berguna untuk mengevaluasi hasil dari terapi yang diberikan.

Penatalaksanaan
Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :
  1. Untuk menghilangkan rasa nyeri.
             Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
  • Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
  • Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah
  1. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
             Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
  • Penarikan (traksi) :
             Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang paha dan panggul.
  • Fiksasi internal :
             Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.
Gambar. Pembidaian


Gambar. Fiksasi internal


Gambar. Fiksasi eksternal

  1. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
            Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.
  1. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
         Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

Cerebral Palsy

Cerebral Palsy
DEFINISI

Cerebral Palsy (CP, Kelumpuhan Otak Besar) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya.

CP bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin memburuk).
Pada bayi dan bayi prematur, bagian otak yang mengendalikan pergerakan otot sangat rentan terhadap cedera
CP terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi prematur dan lebih sering ditemukan pada bayi yang sangat kecil.

PENYEBAB

CP bisa disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada saat:
- bayi masih berada dalam kandungan
- proses persalinan berlangsung
- bayi baru lahir
- anak berumur kurang dari 5 tahun.
Tetapi kebanyakkan penyebabnya tidak diketahui.

10-15% kasus terjadi akibat cedera lahir dan berkurangnya aliran darah ke otak sebelum, selama dan segera setelah bayi lahir.
Bayi prematur sangat rentan terhadap CP, kemungkinan karena pembuluh darah ke otak belum berkembang secara sempurna dan mudah mengalami perdarahan atau karena tidak dapat mengalirkan oksigen dalam jumlah yang memadai ke otak.

Cedera otak bisa disebabkan oleh:
# Kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah (sering ditemukan pada bayi baru lahir), bisa menyebabkan kernikterus dan kerusakan otak
# Penyakit berat pada tahun pertama kehidupan bayi (misalnya ensefalitis, meningitis, sepsis, trauma dan dehidrasi berat)
# Cedera kepala karena hematom subdural
# Cedera pembuluh darah.

GEJALA

Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan.
Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat, yang menyebabkan perubahan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.

CP dibagi menjadi 4 kelompok:

1. Tipe Spastik (50% dari semua kasus CP), otot-otot menjadi kaku dan lemah.
Kekakuan yang terjadi bisa berupa:
- Kuadriplegia (kedua lengan dan kedua tungkai)
- Diplegia (kedua tungkai)
- Hemiplegia (lengan dan tungkai pada satu sisi tubuh)
2. Tipe Diskinetik (Koreoatetoid, 20% dari semua kasus CP), otot lengan, tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan, menggeliat dan tak terkendali; tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk, gerakan akan menghilang jika anak tidur
3. Tipe Ataksik, (10% dari semua kasus CP), terdiri dari tremor, langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan koordinasi dan gerakan abnormal.
4. Tipe Campuran (20% dari semua kasus CP), merupakan gabungan dari 2 jenis diatas, yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe spastik dan koreoatetoid.

Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada CP:
- Kecerdasan di bawah normal
- Keterbelakangan mental
- Kejang/epilepsi (terutama pada tipe spastik)
- Gangguan menghisap atau makan
- Pernafasan yang tidak teratur
- Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan)
- Gangguan berbicara (disartria)
- Gangguan penglihatan
- Gangguan pendengaran
- Kontraktur persendian
- Gerakan menjadi terbatas.

DIAGNOSA

Pada pemeriksaan akan ditemukan tertundanya perkembangan kemampuan motorik.
Refleks infantil (misalnya menghisap dan terkejut) tetap ada meskipun seharusnya sudah menghilang.
Tremor otot atau kekakuan tampak dengan jelas, dan anak cenderung melipat lengannya ke arah samping, tungkainya bergerak seperti gunting atau gerakan abnormal lainnya.

Berbagai pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lainnya:
# MRI kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
# CT scan kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
# Pemeriksaan pendengaran (untuk menentukan status fungsi pendengaran)
# Pemeriksaan penglihatan (untuk menentukan status fungsi penglihatan)
# EEG
# Biopsi otot.

PENGOBATAN

CP tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin.

Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa berupa:
- terapi fisik
- braces (penyangga)
- kaca mata
- alat bantu dengar
- pendidikan dan sekolah khusus
- obat anti-kejang
- obat pengendur otot (untuk mengurangi tremor dan kekakuan)
- terapi okupasional
- bedah ortopedik
- terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu mengatasi masalah makan
- perawatan (untuk kasus yang berat).

Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak anak dengan CP yang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa.
Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas, pendidikan khusus dan selalu memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan refluks gastroesofageal.


PROGNOSIS

Prognosis biasanya tergantung kepada jenis dan beratnya CP.
Lebih dari 90% anak dengan CP bisa bertahan hidup sampai dewasa.

STROKE

DEFINISI
Definisi stroke (WHO, 1996) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal, dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular.
JENIS STROKE
Dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke, semuanya berdasarkan atas gambaran klinik, patologi anatomi, system pembuluh darah dan stadiumnya. Perlunya kliasifikasi yang berbeda-beda berdasarkan karena setiap jenis stroke mempunyai cara pengobatan. preventif dan prognosa yang berbeda. Klasifikasi modifikasi Marshall.
I. Berdasarkan Patologi Anatomi dan Penyebabnya
1. Stroke Iskemik
a. Transient Ischemic Attack (TIA)
b. Trombosis serebri
c. Embolia serebri
2. Stroke Hemoragik
a. Perdarahan intra serebral
b. Perdarahan subarakhnoid
II. Berdasarkan pertimbangan waktu
  1. T I A
  2. Stroke – in – evolution
  3. completed stroke
III. Berdasarkan sistem pembuluh darah
  1. sistem karotis
  2. sistem vertebrobasiler

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko bagi stroke ialah kelainan atau penyakit yang membuat seseorang lebih rentan terhadap serangan stroke.
Faktor-faktor resiko yang kuat (mayor)
  1. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  2. Penyakit jantung
    1. Infark miokard
    2. Elektrokardiogram abnormal disritmia, hipertrofi bilik kiri
    3. Penyakit katup jantung
    4. Gagal jantung kongestif
  3. Sudah ada manifestasi arterosklerosis secara klinis
    1. Gangguan pembuluh darah koroner (angina pectoris)
    2. Gangguan pembuluh darah karotis
  4. Diabetes melitus
  5. Polisitemia
  6. Pernah mendapat stroke
  7. Merokok

Faktor-faktor resiko yang lemah (minor)
  1. Kadar lemak yang tinggi di darah
  2. Hematokrit yang tinggi
  3. Kegemukan
  4. Kadar asam urat tinggi
  5. Kurang gerak badan/olahraga
  6. Fibronogen tinggi
DIAGNOSIS STROKE
Untuk mendiagnosis stroke, konsensus nasional pengolahan stroke di Indonesia, 1999, antara lain mengemukakan hal berikut :
-   Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan temuan klinis
-   CT-Scan tanpa kontras merupakan pemeriksaan baku emas untuk menentukan
jenis patologi stroke, lokasi dan ekstensi lesi serta menyingkirkan lesi non vaskuler.
-   Pungsi lumbal dapat dilakukan bila ada indikasi khusus
-   MRI dilakukan untuk menentukan lesi patologik stroke secara lebih tajam.
-   Neurosonografi dilakukan untuk mendeteksi adanya stenosis pembuluh darah
ekstrakranial dan intrakranial dalam membantu evaluasi diagnostik, etiologik,
terapi dan prognostik.
1. Anamnesis
Pada anamnesis akan ditemukan kelumpuhan anggota gerak sebelah badan, mulut mencong atau bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Keadaan ini timbul dengan sangat mendadak, sedang bekerja atau sewaktu istirahat. Selain itu perlu ditanyakan  faktor-faktor resiko yang menyertai stroke. Ditanyakan pula riwayat keluarga dan adanya penyakit lain.
2. Pemeriksaan Fisik
Langkah pertama lakukan pemeriksaan fungsi vital, seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu. Juga tentukan kesadaran yang ditentukan menurut skor dengan Skala Glasgow Coma Scale. Manifestasi klinik stroke sangat tergantung pada daerah otak yang terganggu aliran darahnya dan fungsi daerah otak tang menderita iskemia. Pemeriksaan neurologis,  pada stroke hemisferik saraf otak yang sering terkena adalah N. VII dan N.XII,  pasien akan bicara pelo dan adanya deviasi lidah. Pada stroke vetebrobasiler akan ditemukan kombinasi berbagai saraf otak yang terganggu disertai vertigo, diplopia, dan gangguan bulbar. Pemeriksaan motorik, hampir selalu terjadi hemiperesis. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan sensorik, refleks fisiologis dan patologis, dan kelainan fungsi luhur.
Mengenal manifestasi stroke yang sangat ringan adalah lebih penting daripada mengenal hemiparesis yang sudah jelas. Manifestasi stroke yang paling ringan sering berupa gangguan ketangkasan gerak maka dari itu urutan pemeriksaan susunan motorik sebagai berikut :
  1. Pemeriksaan ketangkasan gerak
  2. Penilaian tenaga otot-otot
  3. Penilaian refleks tendon
  4. Penilaian refleks patologis, seperti:
Refleks babinski
Refleks opppenheim
Refleks gordon
Refleks schaefer
Refleks gonda dan lain-lain
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
  1. Hemoglobin, hematokrit, eritrosit, lekosit, hitung jenis, trombosit, masa
perdarahan dan pembekuan, laju endap darah
  1. Ureum, kreatinin, fungsi hati, urin lengkap
  2. Gula darah sewaktu, puasa, 2 jam setelah makan, kolesterol total, HDL, LDL,
trigliserid, asam urat.
  1. Bila perlu, elektrolit (natrium, kalium) dan gas darah
  2. Elektrokardiografi

Pemeriksaan radiologi.
1.   CT-Scan otak. Segera memperlihatkan perdarahan intra serebral. Merupakan
pemeriksaan baku emas untuk menentukan jenis patologi stroke, lokasi dan
ekstensi lesi.
  1. MRI dilakukan untuk menentukan lesi patologik stroke secara lebih tajam.
  2. Rontgen toraks.

PATOFISIOLOGI
Stroke Iskemik
Stroke iskemik adalah yang paling sering terjadi. Hal ini sering terjadi ketika thrombus terbentuk dan mengakibatkan hambatan pada arteri di otak. Jika hal ini terjadi sel-sel otak (neuron) tidak memiliki cukup energi sehingga dapat berhenti bekerja, jika arteri terhambat selama beberapa menit sel-sel otak akan mati.
Sebagai akibat dari penutupan aliran darah ke sebagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian proses patologik pada daerah iskemik. Perubahan ini dimulai ditingkat seluler, berupa perubahan fungsi dan struktur sel yang diikuti dengan kerusakan pada fungsi utama serta integritas fisik dari susunan sel selanjutnya akan berakhir dengan kematian neuron. Disamping itu terjadi pula perubahan-perubahan dalam milliu ekstra seluler, karena peningkatan pH jaringan serta kadar gas darah, keluarnya zat neurotransmitter (glutamat) serta metabolisme sel-sel yang iskemik, disertai kerusakan blood brain barrier. Seluruh proses ini merupakan perubahan yang terjadi pada stroke iskemik.
Stroke Hemoragik
Menurut WHO, dalam internasional stasticial classification of disease and related
health problem 10 th revision, stroke hemoragik dibagi atas :
  1. Perdarahan Intra Serebral (PIS)
  2. Perdarahan Sub Arakhnoid (PSA)
Perdarahan Intra Serebral
70% kasus PIS terjadi di kapsula interna 20% di  fossaposterior (batang otak dan serebelum) dan 10% di hemisfer (diluar kapsula interna). Gambaran patologik menunjukkan ekstravasasi darah karena robeknya pembuluh darah otak, diikuti pembentukan edema dalam jaringan otak disekitar hematoma. Akibatnya terjadi diskontinuitas jaringan dan kompresi oleh hematoma dan edema pada struktur sekitar termasuk pembuluh darah otak dan menyempitkan/ menyumbatnya, sehingga terjadi puka iskemi pada jaringan yang dilayaninya. Maka gejala klinis yang timbul bersumber dari destruksi jaringan otak, kompresi otak, kompresi pembuluh darah otak/iskemi dan akibatnya kompresi pada jaringan otak lainnya.

Perdarahan Sub arakhnoid
PSA adalah keadaan terdapatnya/masuknya darah kedalam ruangan subarakhnoid
PSA sering terjadi disebabkan karena abnormalitas arteri yang ada di basal otak, keadaan ini disebut cerebral aneurysms. Terdapat daerah pada arteri yang menjadi bengkak/udem, kemudian semakin parah, dinding pembuluh darah  menjad lemah sehingga akhirnya ruptur.

PENATALAKSANAAN
Stroke iskemik
1. Trombolisis
2. Antikoagulan heparin / Low Molecular Weigth Heparin
3. Asetosal (asam asetil salisilat) dapat dibeikan dalam 48 jam pertama
4. Obat hemoreologik (misalnya pentoksifilin)
5. Neuroprotektor
Stroke hemoragik
a. Perdarahan intraserebral
1. Mengobati penyebabnya
2. Menurunkan tekanan intracranial yang meninggi
3. Neuroprotektor dapat diberikan
4. Tindakan bedah, dengan pertimbangan usia dan GCS  > 4, hanya dilakukan pada pasien dengan :
1. Perdarahan serebelum dengan diameter > 3 cm (kraniotomi dekompresi)
2. Hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum (VP
shunting).
3. Perdarahan lobar diatas 60 cc dengan tanda-tanda peninggian tekanan
intracranial akut dan ancaman herniasi.
b. Perdarahan subarakhnoid
1. Nimodipin untk mencegah vasospasme.
2. Tindakan bedah, jika terjadi pecahnya aneurisma dan adanya komplikasi hidrosefalus obstruktif.

PEMERIKSAAN SENSORIK

PEMERIKSAAN SENSORIK :
  • Diseluruh bagian tes sensorik, pasien perlu kita ajari terlebih dahulu mengenai tes yg akan dilakukan. Kemudian lakukan tes tersebut. Akhirnya cek apakah pasien telah mengerti dan melakukan tes tersebut dengan semestinya. Untuk semua tes, mulailah dari daerah yang mengalami gangguan sensorik ke daerah yang normal.
  • LENGAN :
Terdapat 4 nervus yang sering terganggu di lengan, yaitu : N. Medianus, N. Ulnaris, N. Radialis, N. Aksilaris.
§ TUNGKAI :
Defisit sensorik pada seseorang lebih sering terlihat pada nervus-nervus berikut :
§ nervus kutaneus lateralis, (paha bag. Dpn dan samping).
§ nervus peroneus communis (betis depan, samping, dan sebagian belakang)
  • Nervus femoralis (paha depan bagian medial sampai ke tungkai bawah.
  • Nervus ischiadicus (paha belakang bag. Tengah sampai ke tungkai bawah).

  • TES SENSORIK PRIMER :
  • RABA HALUS:
Gunakan sepotong kapas, beberapa orang lebih menyukai menggunakan ujung jari. Sentuhkan kapas tersebut diatas kulit.
Cobalah untuk mengulangi rangsangannya.
Peragakan – dengan kedua mata pasien terbuka, tunjukkan padanya bahwa anda akan meraba kulitnya. Mintalah pasien mangatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan.
TES – perintahkan pasien untuk menutup matanya, lakukan tes pada daerah kulit yang bermasalah.
• TES NYERI:
Roda bergerigi atau rader sering digunakan Dr. Wartenberg, bisa juga dengan menggunakan peniti atau jarum tajam dan tumpul.
• Peragakan – Tunjukkan kepada pasien apa yg anda kerjakan, Jelaskan bahwa anda ingin agar pasien memberitahukan apakah jarum yang dirasakan tajam atau tumpul. Sentuh area yang terganggu dengan jarum dan kemudian sentuh dengan jarum tumpul pada area yg sehat.
• TES – mintalah pasien menutup kedua matanya kemudian beri rangsangan tajam dan tumpul secara acak, dan perhatikan respon pasien.
• Dermatom – Pada lesi radiks saraf, timbul area penurunan sensasi yang terbatas pada distribusi segmental. Area kulit yang dipersarafi oleh radiks spesifik dinamai dermatom.
• Baal - Sering pasien mengeluh area baal. Pasien harus diinstruksikan untuk melukiskan area ini dengan satu jari tangan. Kemudian pemeriksa harus menempatkan peniti di pusat area baal merangsang ke arah luar sampai pasien memperhatikan rasa nyeri, dengan cara ini batas kehilangan sensorik dapat ditentukan.
• TES SENSASI SUHU:
Isi tabung dengan air hangat dan dingin.
Peragakan – “ saya mau anda mengatakan sesuatu jika saya sentuh anda dengan tabung yang panas atau dingin. Sentuhkan secara acak tabung air panas dan dingin pada tangan, kaki atau daerah kulit yang terganggu.
• TES PROPRIOSEPSI (Indera posisi)
Propriosepsi harus dites pada jari tangan dan kaki bilateral dengan memegang sisi lateral phalanx distal, sementara bagian proksimal phalanx dipertahankan tetap. Mula-mula tes ini dijelaskan kepada pasien dengan matanya terbuka pemeriksa memperlihtakan apa artinya “keatas” dan “kebawah”. Kemudian pasien menutup mata & pemeriksa menggerakkan phalanxnya keatas dan kebawah. Pasien hrs menjawab apakah sendinya ke atas atau ke bawah.
• SENSASI RASA GETAR :
Gunakan garpu tala 128 Hz. Garpu tala dengan frequensi yg lebih tinggi (256 atau 512 Hz) tidak adekuat.
Peragakan – Pastikan pasien mengerti bahwa dia akan merasakan getaran, dengan memukulkan garpu tala dan meletakkannya diatas sternum atau dagu.
TES –mintalah pasien menutup matanya, tempatkan garpu tala pada tonjolan tulang, tanyakan pasien dapat merasakan getaran tersebut.
Letakkan pada sendi metatarsal falangeal, malleolus medialis, tuberositas tibialis, spina iliaka anterior superior, di lengan dan pada ujung jari, masing-masing sendi interfalangeal, pergelangan tangan, siku dan bahu. Bila sensasi bagian distal normal, tes tidak perlu dilakukan pada bagian proksimal

• PEMERIKSAAN SENSORIK SEKUNDER :
• Streognosis :
Identifikasi taktil obyek dinamai sebagai streognosis. Banyak jenis obyek yang lazim dapat digunakan seperti uang logam, penjepit kertas, kunci atau kancing baju. Obyek yg tidak diakrabi harus dihindari. Ketidak mampuan mengenal suatu obyek dinamai astereognois atau agnosia taktil.
• Grafestesia :
Ketidakmampuan mengenal angka atau huruf yang dituliskan pada kulit dinamai grafestesia. Angka sekitar 1 cm tingginya digambarkan pada bantalan jari tangan dengan menggunakan pensil.
Kehilangan kemampuan membedakan angka atau huruf dikenal sebagai grafenestesia.
• Diskriminasi dua titik :
Kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujungdisebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan ber-variasi. Normalnya dua titik terpisah 2– 4 mm dpt dibedakan pd ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan pada dorsum pedis. Tes dpt menggunakan kompas, jepitan rambut.
• Sensory inattention.
Mintalah pasien untuk mengatakan kepada anda bagian mana yang anda sentuh (baik dengan kapas ataupun dengan jarum). Sentuhlah pada bagian kanan dan kemudian pada bagian kirinya. Jika pasien dpt membedakan masing-masing secara terpisah, kemudian sentuhkan kedua bagian pada saat yg sama.
Pengertian Nyeri :
• Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
• Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Fisiologi Nyeri :
• Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.

TEST UNTUK ORANG STROKE

 TEST KESEIMBANGAN
1. TEST ROMBERG

1. Pemeriksa berdiri dalam jarak dekat untuk menjaga bila pasien jatuh.
2. Mintalah pasien berdiri dengan kaki berhimpitan dan ke 2 lengan disisi tubuh
3. Kedua mata pasien terbuka dan kemudian mintalah matanya dipejamkan.
4. Normal adanya gerakan tubuh dengan sedikit bergoyang
5. bila pasien jatuh kesamping karena hilangnya keseimbangan ( test romberg positip )

2. TEST SATU KAKI

1. Mintalah pasien berdiri pada satu kaki dengan mata tertutup
2. Kedua lengan lurus dan tetap disisi tubuh.
3. Ulangi prosedur ini pada kaki satunya.
4. Normal keseimbangan berkisar 5 detik dengan sedikit goyangan tubuh
5. Penyimpangan apabila pasien menggerakan badan dan mengayunkan kakinya untuk mencegah agar tidak jatuh

C. PEMERIKSAAN FUNGSI KOORDINASI

1. TEST MENYENTUH HIDUNG

1. Demonstrasikan setiap manuver ini terhadap pasien dan minta pasien mengulanginya.
2. Perhatikan kehalusan dan keseimbangan gerakan tersebut untuk memeriksa fungsi motor halus.
3. Mintalah pasien mengekstensikan lengan keluar sisi tubuh dan sentuhkan setiap jari ke hidung.
4. Mintalah pasien melakukan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata terpejam.
5. Normal pasien dapat menyentuh hidung secara bergantian.
6. Penyimpangan terjadi apabila pasien tidak mempunyai kemampuan menyentuh hidung, gerakan tidak terkordinasi, tampak kaku, lambat dan tidak teratur.

2. TEST MENEMPATKAN TUMIT KAKI

1. Posisi pasien terlentang/duduk dengan mata tertutup.
2. Mintalah pasien untuk menempatkan tumit salah satu kaki keatas tulang kering atau tibia kaki satunya.
3. Turunkan tumit tersebut dari tulang kering ke ujung kaki lainnya.
4. Normal pasien dapat menggerakan tumit kakinya keatas atau kebawah pada bagian atas tulang tibia kaki yang lainnya dalam satu garis lurus dengan teratur.
5. Penyimpangan terjadi apabila pasien sulit melakukan gerakan keatas atau kebawah, gerakan tampak tidak teratur, kaku, sering menyimpang kesamping dan tidak lurus.

3. TEST MENEPUK LUTUT

1. Posisi pasien duduk.
2. Mintalah pasien untuk menepuk lututnya dengan kedua tangan.
3. Kemudian mintalah pasien menepuk lututnya dengan telapak dan punggung tangan secara bergantian dengan gerakan yang cepat dan bergantian.
4. Mintalah pasien untuk meningkatkan kecepatan secara bertahap.
5. Normal tangan yang dominan pasien tampak lebih terkordinasi dalam gerakan, irama teratur, dapat dihentikan dengan halus dan cepat.

4. TEST TANGAN

1. Posisi pasien duduk, berdiri atau tidur terlentang.
2. Mintalah pasien menyentuh masing-masing jari dengan ibu jari dari tangan yang sama.
3. Mintalah pasien malakukan dalam rangkaian gerak yang cepat, dimulai dari jari telunjuk sampai jari kelinking.
4. Normal pasien dapat menyentuh masing- masing dari jari pada tangan yang sama dengan teratur, cepat dan halus.

5. TEST KAKI

1. Posisi pasien berbaring telentang.
2. Letakkan tangan pemeriksa pada pusat kaki pasien.
3. Mintalah pasien untuk mengetuk tangan pemeriksa dengan kaki secepat mungkin.
4. Amatilah masing-masing kaki mengenai kecepatan dan kehalusannya.
5. Normal gerakan kaki tidak secepat dan serapi tangan.

6. TEST GAYA BERJALAN

1. Mintalah pasien berjalan tanpa alas kaki mengelilingi ruang periksa.
2. Mintalah pasien berjalan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup.
3. Amatilah rangkaian gaya berjalan dan gerakan dari lengan, adanya kaki terseret, berjalan dengan ibu jari kaki, telapak kaki terangkat dengan lemah.
keterlambatan/ kelainan pertumbuhan tungkai, terjadinya gaya berjalan yang limbung/tidak seimbang.
4. Normal tumit yang pertama menyentuh lantai, kemudian seluruh bagian kaki
5. Tumit kedua menekan dan melayang dari lantai
6. Berat badan berpindah dari tumit pertama ke pusat kaki
7. Ayunan tungkai meningkatkan kecepatan saat berat badan pindah dari kaki kedua
8. Kaki kedua mengangkat dan melangkah mendahului kaki pertama yang masih menahan berat badan dan mengayun
9. Kaki kedua menurun kecepatannya dalam mempersiapkan sentuhan tumit selanjutnya
10. Tidak normal bila panggul dan lutut terangkat terlalu tinggi untuk menaikan kaki dan plantar fleksi dari tanah (Steppage)
11. Gerakan seperti kejang dan tidak terarah (Distonik)
12. Tungkai jauh terpisah dengan berat badan berpindah dari sisi satu kelainnya seperti gerak bebek (Distropik).

CEDERA PADA EXTREMITAS SUPERIOR

Sabtu, 14 Agustus 2010

CEDERA PADA EXTREMITAS SUPERIOR


Cedera yang dapat terjadi pada extremitas superior adalah :
1. Cedera pada bahu
2. Cedera pada siku (elbow injuries)
3. Cedera pada lengan bawah, pergelangan tangan dan tangan


A. Cedera pada bahu
Cedera pada bahu sering disebabkan karena lelah., tetapi sering juga terjadi pada pemain tennis, badminton, olahraga lempar dan berenang (internal violence/sebab-sebab yang berasal dari dalam).
Cedera ini biasa juga disebabkan oleh external violence (sebab-sebab yang berasal dari luar), akibat body contact sports, misalnya : sepak bola, rugby dan lain-lain.
Gambar 1. Anatomi bahu
Cedera dapat berupa:
1. luksasio / subluksasio dari artikulasio humeri
2. luksasio / subluksasio dari artikulasio akromio klavikularis
3. subdeltoid bursitis
4. strain dari otot-otot atap bahu (rotator cuff)

ad 1. Luksasio / subluksasio dari artikulasio humeri
Pada sendi bahu sering terjadi luksasio / subluksasio karena sifatnya globoidea (kepala sendi yang masuk ke dalam mangkok sendi kurang dari separuhya). Cedera pada sendi bahu ini sering terjadi karena pemakaian sendi bahu yang berlebihan atau body contact sport, kita harus memperhatikan bahwa sendi bahu sangat lemah, karena sifatnya globoidea dimana hanya diperkuat oleh ligamentum dan otot-otot bahu saja.
Tanda-tanda luksasio / dislokasi :
• lengkung bahu hilang
• tidak dapat digerak-gerakkan
• lengan atas sedikit abduksi
• lengan bawah sedikit supinasi
Pertolongan pertama :
Hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter, kecuali dalam keadaan terpaksa dimana di tempat kejadian tidak ada dokter yang terdekat, barulah kita berikan pertolongan pertama yaitu reposisi.
Reposisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Metode Stimson (lihat gambar)
metode ini sangat baik. Caranya penderita dibaringkan tertelungkup sambil bagian lengannya yang mengalami luksasio, keluar dari tepi tempat tidur, menggantung ke bawah. Kemudian diberikan beban yang diikatkan pada lengan bawah dan pergelangan tangan, biasanya dengan dumbbell dengan berat tergantung dari kekuatan otot si penderita. Si penderita disuruh rileks untuk beberapa jam, kemudian bonggol sendi akan masuk dengan sendirinya.
Gambar 2. Cara reposisi dislokasi bahu dengan metode Stimson
2. Penderita dibaringkan terlentang di lantai. Si penolong duduk pada sisi sendi yang lepas. Kaki si penolong menjulur lurus ke dada si penderita, lengan yang lepas sendinya ditarik dengan kedua tangan penolong dengan tenaga yang

eras dan kuat, sehingga berbunyi “klik”, ini berarti bonggol sendi masuk kembali.
Ad b. Luksasio / subluksasio dari artikulasio akromioklavikularis
Sendiakromio klavikularis kerapkali mengalamin cedera karena jatuh atau dipukul pada ujung bahu. Cedera ini sering terjadi pada penunggang kuda, pemain rugby, atau sepak bola. Jika cedera ini terbatas pada robeknya ligamentum akromio klavikularis, maka terjadi suluksasio / dislokasi sebagian.
Jika ligamentum akromio klavikularis dan ligamentum korako klavikularis terputus, maka terjadilah luksasio atau dislokasi total. Pada keadaan luksasio / subluksasio dari sendi ini, maka dapat kita raba terangkatnya ujung klavikulare bagian akromion lebih tinggi. Bila cedera sudah berlangsung lama, pembengkakan sudah terjadi, maka ujung klavikulare sukar teraba.
Pertolongan pertama :
Harus diadakan pengikatan agar klavikula melekat kembali pada akromion dengan cara membuat ikatan (strapping) yang melewati pergelangan bahu sampai di bawah siku yang difleksikan. Strapping dipakai selama 3 mingu.
Jika strapping sudah dilepas,harus dilakukan latihan untuk menggerakkan bahu dan siku. Bila dislokasinya total, maka strapping harus dipertahankan 6 – 8 minggu.
Ad c. Subdeltoid bursitis
Di sini sendi bahu dapat berfungsi dengan gerakkannya yang halus karena adanya bursa subdeltoid dan bursa ini dapat meradang.bursa mukosa subdeltoid ini memberi pelicin pada tendo yang berjalan pada atap bahu.
Kalau bursa ini cedera, maka akan sedikit membengkak dengan bertambahnya cairan sinovia dan pada gerakan terasa nyeri, biasanya cedera ini terjadi karena pukulan langsung pada bahu, misalnya pada body contact sport (frozen shoulder)
Pertolongan pertama :
Dilakukan metode RICE, serta memberi sanggahan pada lengan atas dan bawah, yaitu lengan digendong dengan mitela, kemudian diobati dengan heat treatment. Mittela dipasang kira-kira selama 7 hari. Kalau perlu diberi obat-obat anti inflamasi (anti peradangan).
Fraktur pada klavikula biasa terjadi karena sebab-sebab yang tidak langsung, misalnya karena jatuh dengan posisi tangan lurus ke bawah menebah lantai.
Pertolongan yang diberikan :
Pertama-tama kita harus melakukan metode RICE dan kemudian dilakukan tindakan immobilsasi selama kira-kira 6 – 8 minggu, dengan membuat balutan seperti menggendong ransel.
Ad. d Strain dari otot-otot atap bahu (rotator cuff)
Istilah rotator cuff dipergunakan untuk jaringan ikat fibrosa yang mengelilingi bagian atas tulang humerus. Ini dibentuk dengan bersatunya tendon-tendon atap bahu (gambar 3)
Keempat tendon tersebut adalah :
• musculus supraspinatus
• musculus infraspinatus
• musculus teres minor
• musculus subscapularis

yang paling sering kena adalah tendon supraspinatus. Biasanya terjadi karena tarikan yang tiba-tiba, misalnya, jatuh dengan tangan lurus atau abduksi yang tiba-tiba melawan beban berat yang dipegang dengan tangan.
Gambar 3. Nyeri bahu. Diagnosis banding :
1. Sprain akromioklavikularis/subluksasio/dislokasi/osteoartrosis/bursitis
2. Osteolitis traumatic ujung lateral klvikula
3. Bursitis subakromial
4. Tendonitis supraspinatus
5. Rupture kalsifikasi supraspinatus
6. Rupture kalsifikasi rotator cuff
7. Tendonitis bisipital
8. Kapsulitis sendi bahu
9. Frozen shoulder
10. Subluksasio/dislokasi berulang
11. Osteoartrosis
12.Nyeri alih
Tanda-tanda :
Penderita mengeluh nyeri di ujung bahu. Kalau penderita menaikkan lengan ke samping setelah 45o pertama, penderita mulai merasa sakit, lebih-lebih setelah lengan lebih tingi. Tetapi rasa sakit berkurang lagi setelah lewat 120o.
Pengobatan
Lengan digendong dengan mittela selama 2-3 hari, lalu diberikan metode RICE
B. Elbow injuries (cedera pada siku)
Tulang lengan bawah dapat mengalami kelainan congenital (kelainan sejak lahir), yaitu :
a. Cubitus valgus
yaitu kedua lengan bawah dapat merapat satu sama lain.
b. Cubitus varus
biasanya karena patahnya suprakondilus pada waktu kecil
c. Cubitus recurvatus

terjadi hiperekstensi pada artikulasio cubiti.
Ketiga cacat diatas, dapat menimbulkan cedera pada cabang-cabang olahraga terutama melempar. Cubitus recurvatus dapat menimbulkan problem pada senam.
Cedera-cedera yang sering terjadi pada siku :
1. Lateral epikondilitis (tennis elbow)
Suatu keadaan yang sering terjadi dengan gejala nyeri dan sakit pada posisi luar siku, tepatnya pada epikondilus lateralis humeri. Biasanya terjadi karena pukulan top spin back hand yang terus-menerus, jadi bersifat over use.
Etiologi dari tennis elbow ini belumlah jelas. Banyak para ahli menganggap bahwa gerakan yang terus-menerus serta intensif dalam bentk pronasi dan supinasi dengan tangan yang memegang tangkai raket, menimbulkan over strain pada otot-otot extensor lengan bawah yang berorigo pada epikondilus lateralis humeri.
Tarikan pada otot-otot tersebut akan menimbulkan mikro trauma yang makin lama makin bertumpuk menjadi makro trauma, sehingga akhirnya menimbulkan tennis elbow.
Ada juga yang menganggap disebabkan oleh peradangan (inflamasi) periosteum yang menutupi epikondilus lateralis humeri. Inflamasi tersebut karena tarikan yang terus-menerus dari otot-otot extensor lengan bawah yang berorigo pada epikondilus lateralis humeri.
Tennis elbow tidak semata-mata hanya timbul pada pemain tennis saja, tapi dapat timbul pada cabang angkat besi, bahkan pada ibu rumah tangga atau penjual minuman botol yang benyak membuka tutup botol.
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya tennis elbow :
• Besar kecilnya tangkai raket
• Ketegangan dari senar raket yang tak sesuai
• Kualitas bola yang tidak sesuai
• Berat dan ringannya raket tersebut.
Penyakit ini terjadi secara perlahan-lahan dan menjadi progressif. Pengobatannya dapat dilakukan dengan heat treatment ataupun fisiotherapi lainnya, misalnya pemijatan, tapi pada mulanya berilah kompres dingin/es.
Gambar 4. Tennis elbow
Pencegahan dan pengobatan :

Melakukan latihan-latihan pada otot-otot tersebut dengan cara meletakkan tangan dalam posisi datar di atas meja. Telapak tangan menghadap ke bawah memegang dumbbell yang beratnya 2 – 2,5 kg. sambil mengangkat dumbbell ke atas dan ke bawah hanya menggunakan dorsofleksi.
Pengobatan tennis elbow kadang-kadang memerlukan waktu lama untuk penyembuhannya. Selama pengobatan si penderita boleh bermain tennis tapi tidak terlalu lelah , sebaiknya memakai balutan khusus untuk lengan , semacam decker.
2. Medial epikondilitis (golfer’s elbow)
Sejenis dengan tennis elbow, disebut juga medial epikondilitis atau fore hand tennis elbow. Yang terkena di sini adalah epikondilus medialis humeri. Mengenai patofisiologinya sama dengan tennis elbow, hanya saja yang mengalami mikro trauma adalah origo dari otot-otot yang melakukan fleksi lengan bawah, jadi yang berorigo pada epikondilus medialais humeri. Golfer’s elbow biasanya diderita oleh pemain golf, tetapi pemain jenis olahraga lainya juga dapat mengalaminya, yaitu nyeri di siku bagian dalam.
Gambar 5. Terapi untuk back hand tennis elbow. Lengan diletakkan dalam posisi datar di atas meja, tangan dibiarkan terulur melewati tepi meja, telapak tangan menghadap ke bawah. Dengan memegang beban seberat 2 – 2,5 kg, bengkokkan pergelangan tangan sebanyak sepuluh kali.
Pengobatan :
Istirahat untuk beberapa waktu lamanya sambil diberi fisiotherapi pemanasan ataupun pemijatan dan juga latihan memperkuat otot-otot lengan bawah, yaitu dengan cara memegang dumbbell dengan telapak tangan terbuka ke atas sambil mengadakan gerakan volarfleksi pada pergelangan tangan, dimana lengan bawah diletakkan melekat pada meja.

Gambar 6. Terapi untuk fore hand tennis elbow. Lengan diletakkan dalam posisi datar di atas meja, tangan dibiarkan terulur melewati tepi meja, telapak tangan menghadap ke atas. Dengan memegang beban seberat 2 – 2,5 kg, bengkokkan pergelangan tangan sebanyak sepuluh kali.
C. Cedera pada lengan bawah, pergelangan tangan dan tangan
Cedera yang sering terjadi adalah teno sinovitis dari otot-otot extensor lengan bawah, dan biasanya terjadi pada olahraga dayung.
Cedera pada pergelangan tangan jarang terjadi, tetapi bila terjadi dapat sangat mengganggu. Kita mengenal cedera pergelangan tangan thrower’s wrist, akibat hiperekstensi pada waktu melempar agar mendapat lemparan yang jauh, dan ini biasa terjadi pada cabang-cabang olahraga melempar, misalnya tolak peluru.
Kadang-kadang kita menjumpai adanya tonjolan di daerah punggung, pergelangan tangan, tangan, yang disebut ganglion, yang diduga akibat pembesaran pembungkus tendo dan berisi lendir.
Gambar 7. Foto Rontgen menunjukkan fraktur metakarpal pertama (fraktur Bennet)
Cedera pada jari-jari sangat jarang terjadi, dan cedera pada ibu jari sering terjadi pada petinju, yaitu fraktura metacarpal I (fraktur Bennet), dan dislokasi pada ibu jari dapat terjadi terutama pada body contact sport.

PENUTUP
Cedera pada extremitas superior bahu, bisa berupa luksasio atau subluksasio dari artikulasio humeri, luksasio atau subluksasio dari artikulasioakromioklavikularis, subdeltoid bursitis dan strain dari otot-otot atap bahu (rotator cup).
Jika terjadi luksasio atau subluksasio dapat direposisi dengan beberapa cara, salah satunya adalah metode Stimson.
Cedera yang sering terjadi pada daerah siku adalah lateral epikondilitis (tennis elbow) dan medial epikondilitis(Golfer’s elbow)
Cedera yang sering terjadi pada lengan bawah, pergelangan tangan dan tangan adalah teno sinovitis dari otot-otot extensor lengan bawah, Thrower’s wrist akibat hiperekstensi yang berlebihan dan ganglion yaitu tonjolan akibat pembesaran pembungkus tendo dan berisi lender.
DAFTAR PUSTAKA
Hardianto Wibowo, dr, Pencegahan dan penatalaksaan cedera olahraga, cetakan I, EGC, 1995.
Werner Kahle, Atlas dan buku teks anatomi manusia, cetakan I, EGC, 1990.
Purnawan Junadi, dkk, Kapita selekta kedokteran, edisi 2, penerebit Media Aesculapius fakultas kedokteran UI, 1982
Werner Spalteholz, Hand atlas of human anatomy, seven edition in English. JB Lippincott Company

canger cervix

 Kanker Leher Rahim
(Cervical Cancer)


Definisi Leher Rahim (Cervix)

Leher Rahim adalah bagian dari sistim reproduksi wanita. Ia adalah bagian bawah yang sempit dari rahim atau kandungan ( uterus atau womb). Rahim adalah organ berongga yang berbetuk buah per pada perut bagian bawah. Mulut rahim (cervix) menghubungkan rahim (kandungan) ke vagina. Vagina menjurus pada bagian luar tubuh.

Kanal rahim adalah jalan terusan. Darah mengalir dari kandungan melalui kanal kedalam vagina sewaktu periode menstruasi seorang wanita. Mulut rahim juga menghasilkan lendir. Lendir membantu sperma bergerak dari vagina kedalam kandungan (uterus). Selama kehamilan, mulut rahim ditutup dengan ketat untuk membantu mempertahankan bayi didalam kandungan. Sewaktu kelahiran bayi, mulut rahim (cervix) membuka lebar untuk mengizinkan bayi melewati vagina.
Definisi Kanker

Kanker mulai didalam sel-sel, blok-blok bangunan yang menyusun jaringan-jaringan. Jaringan-jaringan menyusun organ-organ tubuh.

Secara normal, sel-sel tumbuh dan membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh membutuhkan mereka. Ketika sel-sel tumbuh menjadi tua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka.

Kadangkala, proses yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka, dan sel-sel tuatidak mati ketika mereka seharusnya mati. Sel-sel ekstra ini dapat membentuk massa dari jaringan yang disebut pertumbuhan atau tumor.

Tumor-tumor dapat bersifat jinak atau ganas:
Tumor-tumor jinak adalah bukan kanker
Tumor-tumor jinak adalah jarang mengancam nyawa.
Secara umum, tumor-tumor jinak dapat diangkat, dan mereka biasanya tidak akan tumbuh kembali.
Sel-sel dari tumor-tumor jinak tidak menyerang jaringan-jaringan sekitar mereka.
Sel-sel tumor-tumor jinak tidak menyebar ke bagian-bagian lain tubuh.
Polip-polip, kista-kista, dan kutil-kutil genital adalah tipe-tipe pertumbuhan-pertumbuhan yang jinak dari leher rahim (cervix).
Tumor-tumor ganas adalah kanker:
Tumor-tumor ganas umumnya adalah lebih serius daripada tumor-tumor jinak. Mereka mungkin mengancam nyawa.
Tumor-tumor ganas seringkali dapat diangkat. Namun kadangkala mereka tumbuh kembali.
Sel-sel tumor-tumor ganas dapat menyerang dan merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang berdekatan.
Sel-sel tumor-tumor ganas dapat menyebar (metastasize) ke bagian-bagian lain tubuh. Sel-sel kanker menyebar dengan memecah dari tumor asal (primer) dan masuk kedalam aliran darah atau sistim getah bening (lymphatic system). Sel-selnya menyerang organ-organ lain dan membentuk tumor-tumor baru yang merusak organ-organ ini. Penyebaran dari kanker disebut metastasis.

Ketika kanker menyebar dari tempat asalnya ke bagian lain tubuh, tumor baru mempunyai macam yang sama dari sel-sel yang abnormal dan nama yang sama seperti tumor primernya. Contohnya, jika kanker leher rahim menyebar ke paru-paru, sel-sel kanker didalam paru-paru sebenarnya adalah sel-sel kanker leher rahim. Penyakitnya adalah kanker leher rahim yang metastatik, bukan kanker paru-paru. Untuk sebab ini, ia dirawat sebagai kanker leher rahim, bukan kanker paru-paru. Dokter-dokter menyebut tumor baru penyakit "jauh" atau metastatik

FUNGSIONAL HIP, PELVIS DAN SPINE

Secara arsitektur, pelvis terletak strategis kare-na merupakan penghubung trunk dengan extre-mitas inferior sehingga harus saling bekerja-sama pada setiap gerakan lumbal dan hip.
Ketika tubuh dalam posisi berdiri tegak, pelvis menerima berat kepala, trunk, dan upper extre-mitas, kemudian mentransmisikan beban terse-but ke 2 lower extremitas.
Karena gerak pelvis bergantung pada sendi-sendi di lumbal spine dan hip maka gerak pel-vis dapat bersifat sekunder atau primer.
Untuk mengamati gerak pelvis sangat sulit karena pantat yang menonjol dengan lapisan lemak yang tebal dan konveks sacrum yang tidak mudah diobservasi.
Dengan bantuan X-ray maka dapat dilihat ana-lisis gerakan primer dan sekunder dari pelvis terhadap lumbal spine dan hip.

Gerak sekunder pelvis terhadap hip/lower extremitas

Sama hubungannya antara shoulder girdle dan upper extremitas, dimana pelvis bergerak untuk menyempurnakan/melengkapi gerakan pada hip.
Ada 3 tipe gerakan yang melibatkan gerakan sekunder pelvis :
Gerakan kedua tungkai secara bersamaan ke depan atau ke belakang dalam suspension.
Gerakan kedua tungkai yang berlawanan arah, se-perti berjalan, berlari.
Gerakan salah satu tungkai, seperti menendang ke depan atau ke samping.
Pada gerakan kedua tungkai mengayun ke depan atau ke belakang, pelvis akan backward tilt ketika hip fleksi dan pelvis akan forward tilt ketika hip extensi/hiperextensi.
Pada gerakan kedua tungkai yang berlawanan (berjalan), pelvis akan berotasi dalam bidang horizontal disekitar axis vertikal. orientasi pelvis tersebut menyebabkan satu tungkai flek-si hip dengan sedikit external rotasi & tungkai lainnya ekstensi hip dengan sedikit internal ro-tasi.
Pada gerakan satu tungkai ke samping (abduksi hip), pelvis akan lateral tilt.
Pada gerakan satu tungkai ke depan (fleksi hip), pelvis akan backward tilt, begitupula se-baliknya.
Adanya perubahan posisi pelvis pada setiap gerakan hip bertujuan untuk menyempurnakan atau menguntungkan gerakan hip joint.

Lumbopelvic Rhythm

Suatu gerakan koordinasi antara lumbal spine dan pelvis terjadi selama fleksi trunk sampai jari-jari tangan mencapai lantai/tanah.  ini disebut lumbopelvic rhythm.
Pada saat kepala dan upper trunk (punggung atas) mulai fleksi, maka pelvis akan bergeser ke posterior (backward tilt) untuk memperta-hankan pusat gravitasi seimbang diatas dasar tumpuan
Ketika trunk berlanjut ke fleksi, maka dikontrol oleh otot ekstensor spine sampai sekitar 45o.
Kemudian ligamen-ligamen bagian posterior akan tegang dan orientasi facet dalam bidang frontal, sehingga memberikan stabilitas pada vertebra & otot relax.
Pada akhir ROM, seluruh segmen vertebra di-stabilisasi oleh ligamen-ligamen posterior dan facet joint.
Pada akhir ROM, pelvis mulai berotasi ke de-pan (forward tilt) yang dikontrol oleh otot glu-teus maximus dan hamstring.
Kemudian pelvis melanjutkan rotasi ke depan sampai pemanjangan penuh otot ekstensor spine dan hamstring tercapai.  akhir ROM dipengaruhi oleh fleksibilitas otot ekstensor spine dan fascia serta otot ekstensor hip (hams-tring).
Pada saat trunk kembali ke posisi tegak, diawal gerakan otot ekstensor hip merotasikan pelvis kearah posterior (backward tilt).
Kemudian otot ekstensor spine memanjangkan spine (ekstensi trunk) dari posisi fleksi.
Lumbopelvic rhythm dapat terganggu akibat kebiasaan postur yang jelek, keterbatasan pan-jang otot atau fascia, atau injury dan gangguan propriosepsi.

Jumat, 13 November 2009

Struktur Anatomi Pelvic

Pelvic merupakan suatu tulang yang kaku, berperan sebagai rangkaian hubungan yang besar antara trunk dan extremitas inferior.
Setiap tulang pelvic dibentuk oleh 3 tulang : os ilium, ischium dan pubis.
Kedua tulang pelvic (kiri dan kanan) bersam-bung membentuk pelvic girdle.
Kedua tulang pelvic secara kuat melekat pada sacrum melalui sacroiliaca joint.


Sacrum diikat dengan kuat oleh 2 tulang iliaca dan ligamen sacroiliaca anterior, posterior dan ligamen sacroiliaca interosseus yang memper-kuat sacroiliaca joint.
Sacroiliaca joint juga diperkuat oleh ligamen iliolumbar, sacrotuberous, dan ligamen sacro-spinous serta bagian bawah oleh otot erector spine.
Karena perlekatannya, maka sacrum dianggap sebagai bagian dari pelvic girdle.




Gerakan Pelvic
Perubahan posisi pelvic sebenarnya dihasilkan oleh gerakan lumbal spine dan hip joint.
Gerakan pada lumbal spine dan hip joint dapat menghasilkan pelvic bergerak tilting ke depan, ke belakang, ke samping, dan rotasi secara ho-rizontal.
Gerakan yang terjadi pada pelvic terdiri dari : forward tilt (inklinasi meningkat), backward tilt (inklinasi menurun), lateral tilt, rotasi (lateral twist/memutar)

Forward Tilt
Forward tilt adalah gerakan pelvic pada bidang sagital disekitar axis frontal-horizontal sehing-ga symphisis pubis berputar kebawah dan per-mukaan posterior sacrum berputar keatas.
Dalam forward tilt, peningkatan sudut dibentuk oleh puncak os pubis dan peningkatan deviasi sacrum serta pelvis bagian posterior menjauh dari vertikal.

Backward tilt
Backward tilt adalah suatu gerak rotasi pelvis dalam bidang sagital sekitar axis frontal-horizontal sehingga symphisis pubis bergerak ke depan – atas dan permukaan posterior sacrum berputar sedikit ke bawah.
Dalam backward tilt, sudut dibentuk oleh pun-cak os pubis dan penurunan horizontal serta terjadi penurunan inklinasi horizontal sacrum dan posterior pelvis.

Lateral tilt
Lateral tilt adalah suatu gerak rotasi pelvis da-lam bidang frontal sekitar axis sagital-horizon-tal sehingga salah satu crista iliaca turun dan yang lainnya naik.
Pada lateral tilt ke kiri, crista iliaca sisi kiri akan turun dan sisi kanan akan naik

Rotasi (lateral twist)
Rotasi (lateral twist) adalah suatu gerak rotasi pelvis dalam bidang horizontal sekitar axis vertikal/longitudinal.
Dalam rotasi, pelvis bagian depan berputar ke arah belakang.

Gerakan pada Hip

Karena hip joint merupakan triaxial joint maka terdapat 3 pasang gerakan yang terjadi pada hip joint.
Gerakan tersebut adalah fleksi – ekstensi, ab-duksi – adduksi, external rotasi – internal rotasi
Gerakan yang paling luas adalah fleksi hip dan yang paling terbatas adalah ekstensi/hipereks-tensi hip.

1. Fleksi Hip
Fleksi hip adalah gerakan femur ke depan da-lam bidang sagital.
Jika knee lurus, maka gerakan fleksi hip diba-tasi oleh ketegangan otot hamstring.
Pada gerak fleksi yang luas, pelvis akan back-ward tilt untuk melengkapi/menyempurnakan gerakan pada hip joint.

2. Ekstensi/hiperekstensi Hip
Extensi adalah gerakan kembali dari fleksi.
Hiperekstensi adalah gerakan femur ke bela-kang dalam bidang sagital.
Gerakan ini sangat terbatas, kecuali para dan-cer dan akrobat yang memungkinkan terjadi rotasi femur keluar sehingga gerakannya cukup luas.
Faktor penghambat hiperekstensi hip adalah ketegangan ligamen iliofemoral pada bagian depan sendi.
Keuntungan dari keterbatasan gerak ini adalah sendi menjadi sangat stabil untuk weight bearing (menumpuh berat badan) tanpa mem-butuhkan kontraksi otot yang kuat.

3. Abduksi
Abduksi adalah gerakan femur ke samping da-lam bidang frontal sehingga paha bergerak jauh dari midline tubuh.
ROM Abduksi yang lebih besar dapat terjadi jika femur berotasi keluar.
Abduksi dibatasi oleh otot-otot adduktor dan li-gamen pubofemoral.

4. Adduksi
Adduksi adalah gerakan kembali dari abduksi.
Hiperadduksi hanya dapat terjadi jika tungkai sisi kontralateral digerakkan keluar.
Pada hiperadduksi yang luas, ligamen teres femoris menjadi tegang.

5. External/Lateral Rotasi
External rotasi adalah suatu rotasi femur disekitar axis longitudinal sehingga knee terputar keluar.
External rotasi juga merupakan suatu rotasi femur disekitar axis sagital sehingga knee ter-putar kedalam.
ROM external rotasi biasanya lebih besar daripada internal rotasi

6. Internal/Medial Rotasi
Internal rotasi adalah gerak rotasi femur disekitar axis longitudinal sehingga knee terputar kedalam.
Internal rotasi juga merupakan gerak rotasi femur disekitar axis sagital sehingga knee ter-putar keluar.
ROM internal dan external rotasi dipengaruhi oleh derajat torsi femoral (terputarnya femur pada axis longitudinal sehingga salah satu ujungnya berotasi kedalam terhadap ujung lainnya).

7. Diagonal Adduksi/Abduksi
Diagonal adduksi adalah suatu gerakan ke depan dari posisi abduksi paha dalam bidang horizontal, yang diikuti oleh penu-runan external rotasi.
Diagonal abduksi adalah suatu gerakan ke samping dari posisi fleksi hip dalam bidang horizontal, yang diikuti oleh external rotasi.

Senin, 09 November 2009

Sudut Pada Hip Joint

Sudut inklinasi adalah sudut yang dibentuk antara axis neck femur dan shaft femur (nor-malnya 125o). Jika sudut inklinasi lebih besar dari normal disebut dengan coxa valga, jika lebih kecil dari normal disebut dengan coxa vara. Torsion adalah sudut yg dibentuk oleh axis transversal condylus femur dan axis neck femur (normalnya 8 – 25o atau 12o). Peningkatan sudut torsion disebut dengan ante-version (shaft femur berotasi ke medial).
Penurunan sudut torsion disebut dengan retro-version (shaft femur berotasi ke lateral).

Sabtu, 07 November 2009

Otot- otot pada Hip Joint

Hip joint diperkuat oleh otot-otot panggul dan paha. Otot-otot panggul dan paha terdiri atas otot one-joint dan two joint.
Group Otot      One-Joint                        Two-Joint
Anterior           Iliopsoas                          Rectus femoris
                                                               Sartorius

Medial             Pectineus
                        Adductor magnus
                        Adductor longus
                       Adductor brevis               Gracilis

Posterior         Gluteus maximus
                       Deep rotator                    Semimembranosus
                                                               Semitendinosus
                                                               Biceps femoris

Lateral            Gluteus medius
                       Gluteus minimus                Tensor fascia latae


 
  
 

 

 

Kamis, 05 November 2009

Struktur Anatomi Hip

Hip joint merupakan triaxial joint, karena me-miliki 3 bidang gerak. Hip joint juga merupakan hubungan proksimal dari extremitas inferior. Dibandingkan dengan shoulder joint yang konstruksinya untuk mobilitas, hip joint sangat stabil yang konstruksinya untuk menumpuh be-rat badan. Selama berjalan, gaya dari extremitas inferior ditransmisikan keatas melalui hip ke pelvis & trunk, dan aktivitas extremitas inferior lainnya. Dalam suatu gerak fungsional, terjadi hubu-ngan antara pelvic girdle dan hip joint à pelvic girdle akan mengalami tilting dan rotasi selama gerakan femur. Hubungan tersebut hampir sama dengan hubu-ngan scapula dengan shoulder joint, perbedaan-nya adalah scapula kiri & kanan dapat bergerak bebas sedangkan pelvic hanya dapat bergerak sebagai satu unit.

Hip joint dibentuk oleh caput femur yang kon-veks bersendi dengan acetabulum yang konkaf. Hip joint adalah ball and socket (spheroidal) triaxial joint. Acetabulum terbentuk dari penyatuan os ilium, ischium, dan pubis. Seluruh acetabulum dilapisi oleh cartilago hyaline, & pusat acetabulum terisi oleh suatu massa jaringan lemak yang tertutup oleh membran synovial.


Jaringan fibrokartilago yang melingkar datar di acetabulum disebut dengan labrum acetabular, yang melekat disekeliling margo acetabulum. Labrum acetabular menutup cartilago hyaline & sangat tebal pada sekeliling acetabulum dari-pada pusatnya à hal ini menambah kedalaman acetabulum. Acetabulum terletak di bagian lateral pelvis, menghadap ke lateral, anterior & inferior.


Caput femur secara sempurna ditutup oleh cartilago hyaline. Pada pusat caput femur terdapat lubang kecil yang dinamakan dengan fovea capitis à tidak ditutup oleh cartilago hyaline. Caput femur membentuk sekitar 2/3 dari suatu bola. Caput femur berbentuk spherical dan mengha-dap kearah anterior, medial dan superior. Hip joint diperkuat oleh kapsul sendi yang kuat, ligamen iliofemoral, pubofemoral, dan ischiofemoral. Hip joint juga diperkuat oleh ligamen transver-se acetabular yang kuat & bersambung dengan labrum acetabular. Ligamen teres femoris merupakan ligamen triangular yang kecil, melekat pada apex fovea capitis dekat pusat caput femur ke tepi ligamen acetabular.
Ligamen teres femoris berfungsi sebagai pe-ngikat caput femur ke bagian bawah acetabu-lum dan memberikan stabilisator yang kuat didalam sendi (intraartikular). Stabilisator bagian luar dihasilkan oleh 3 liga-men yang melekat pada collum/neck femur yaitu : ligamen iliofemoral, pubofemoral & is-chiofemoral. Ligamen iliofemoral disebut juga ligamen “Y”, karena arah serabut mirip huruf Y terbalik. Ligamen iliofemoral memperkuat kapsul sendi bagian anterior. Ligamen pubofemoral terdiri dari ikatan serabut yang kecil pada kapsul sendi bagian medial anterior dan bawah. Ligamen ischiofemoral merupakan ligamen triangular yang kuat pada bagian belakang kapsul.

Minggu, 01 November 2009

Biomekanik Elbow dan Forearm (Lengan Bawah)

Elbow joint terdiri atas 3 sendi yaitu : hu-meroulnar joint, humeroradial joint, dan proximal radioulnar joint. Ketiga sendi tersebut dibungkus oleh kapsul sendi yang sama. Tulang yang membentuk elbow dan forearm adalah os humerus bagian distal, os radius dan os ulna. Elbow joint diperkuat oleh ligamen collate-ral radial/lateral dan ligamen collateral ulnar/medial serta ligamen annulare.
Ligamen collateral lateral terdiri atas :
- Serabut anterior yang memperkuat ligamen annular kearah anterior.
- Serabut intermediate yang memperkuat liga-men annular kearah posterior.
- Serabut posterior
Ligamen collateral medial terdiri atas :
- Serabut anterior yang memperkuat ligamen annular.
- Serabut intermediate yang paling kuat.
- Serabut posterior atau ligamen Bardinet, diper-kuat oleh serabut transverse dari ligamen Cooper’s.


Elbow joint dan Forearm terdiri atas:
HUMEROULNAR JOINT
Humeroulnar joint merupakan sendi ber-bentuk hinge (engsel) dengan trochlea hu-meri yang ovular bersendi dengan fossa trochlearis ulna. Permukaan trochlea humeri menghadap ke-arah anterior dan bawah membentuk sudut 45o dari shaft humeri.
Fossa trochlearis ulna menghadap keatas dan anterior membentuk sudut 45o dari ulna. Pada umumnya, bagian anterior sulcus trochlearis nampak berjalan vertikal tetapi pada bagian posterior nampak berjalan oblique kearah distal lateral  sehingga pa-da saat extensi penuh akan terbentuk carrying angle pada lengan (normal = 15o).
Gerak utama pada sendi ini adalah fleksi-ekstensi (fossa yang konkaf slide dalam arah yang sama dengan gerak ulna). Sendi ini paling stabil pada close pack po-sition ekstensi elbow.
Untuk mencapai ROM penuh, maka gerak fleksi selalu disertai varus angulasi (lateral slide) & gerak ekstensi selalu disertai valgus angulasi (medial slide).
Gerak arthrokinematika pada humeroulnar joint adalah gerak slide mengikuti gerak angular tulang.

HUMERORADIAL JOINT

Humeroradial joint dibentuk antara capitu-lum humeri yang berbentuk spherical de-ngan ujung proksimal radius (fovea capitu-lum radii). Sendi ini berbentuk hinge-pivot joint. Humeroradial joint memberikan kontribusi terhadap gerak fleksi-ekstensi elbow. Pada saat pronasi-supinasi lengan bawah, caput radii mengalami spin terhadap capitu-lum humeri. Pada arthrokinematika, per-mukaan caput radii yang konkaf akan slide dalam arah yang sama dengan gerakan tulang .

PROKSIMAL RADIOULNAR JOINT

Sendi ini dibentuk oleh fossa radialis ulna yang bersendi dengan caput radii. Sendi ini merupakan uniaxial pivot joint yang terbungkus dalam kapsul elbow joint. Proksimal radioulnar joint diperkuat oleh li-gamen annulare radii yang dibantu oleh serabut anterior ligamen collateral medial & lateral. Karena tergolong uniaxial pivot joint, maka proksimal radioulnar joint berperan besar terhadap gerak pronasi-supinasi lengan bawah à radius bergerak menyilang diatas ulna saat pronasi. Pada saat gerak pronasi-supinasi, caput radii yang berbentuk konveks akan bergerak terhadap fossa radialis ulna yang konkaf sehingga arah slide berlawanan arah dengan gerakan tulang.

DISTAL RADIOULNAR JOINT

Distal radioulnar joint dibentuk oleh fossa ulnaris radii yang bersendi dengan caput ulna. Sendi ini bergerak secara simultan dengan proksimal radioulnar joint. Saat gerak pronasi-supinasi, fossa ulnaris ra-dii yang konkaf bergerak slide dalam arah yang sama dengan gerak tulang.

MID-RADIOULNAR JOINT
Mid-radioulnar joint tergolong kedalam syndesmosis yaitu jaringan fibrous padat yang mengikat kedua buah tulang. Mid-radioulnar diikat oleh jaringan fibrous yaitu membrana interosseus. Mid-radioulnar joint berpartisipasi dalam gerakan pronasi-supinasi lengan bawah.

OTOT-OTOT ELBOW


Otot-otot fleksor elbow adalah :
 Otot brachialis; otot one-joint yang berpartisi-pasi dalam semua aktivitas fleksi elbow, tidak dipengaruhi oleh posisi lengan bawah.
 Otot biceps brachii; otot two-joint yang berpe-ran besar dalam fleksi elbow saat lengan bawah supinasi
 Otot brachioradialis; berfungsi utama dalam stabilisasi elbow, berperan dalam fleksi elbow saat midposisi lengan bawah.
Otot-otot ekstensor elbow adalah :
 Triceps brachii; otot two-joint yang memiliki 3 caput origo, berperan besar dalam ekstensi elbow, membantu ekstensi shoulder.
 Anconeus; otot ini membantu ekstensi elbow dan berperan sebagai stabilisasi selama supinasi & pronasi.
Otot-otot supinator lengan bawah :
 Supinator; sangat berperan dalam gerak supina-si & sebagai stabilitas elbow bagian lateral.
 Biceps brachii
Otot-otot pronator lengan bawah :
 Otot pronator teres; otot ini menghasilkan gerak pronasi lengan bawah & sebagai stabilisasi proksimal radioulnar joint.
 Otot pronator quadratus; otot yang bekerja aktif selama aktivitas pronasi lengan bawah.
Otot-otot wrist joint dan tangan yang berori-go di regio elbow (epicondylus medial dan lateral humeri) berperan dalam stabilisasi elbow dan sedikit memberikan kontribusi terhadap gerakan elbow.

PENGHAMBAT GERAKAN
Pada akhir gerak pasif fleksi, processus co-ronoideus ulna akan kontak dengan fossa co-ronoideus humeri, caput radii akan kontak dengan fossa radialis humeri à ditambah pula ketegangan kapsul bagian posterior. Pada gerak aktif fleksi, hambatan gerak di-hasilkan oleh pertemuan otot bagian anterior lengan atas (biceps brachii) dengan otot bagian anterior lengan bawah (otot fleksor wrist). Pada akhir gerak aktif dan pasif ekstensi elbow, processus olecranon akan kontak dengan fossa olecranon humeri, ditambah dengan ketegangan kapsul bagian anterior. Pada akhir gerak supinasi, terjadi ketegangan membran interosseus, kapsul bagian anterior & ligamen annulare radii. Gerak pronasi secara mekanikal dihambat oleh gerak radius yang menyilang diatas ulna & kontak melawan ulna.

 
Raden Mas Fauzie

Buat Lencana Anda